Pembahasan Bacaan Niat Sholat Fardhu

Apakah niat sholat fardhu itu harus dilafalkan atau cukup dalam hati? Dari pelajaran agama Islam yang saya dapatkan, saya bisa tahu ada banyak lafal niat, seperti niat sholat, puasa, zakat, dan sebagainya. Niat memang hal yang harus ada jika kita akan melakukan ibadah. Tapi apakah untuk melakukan ibadah kita harus melafalkan niat terlebih dahulu?

Saya tidak pernah tahu bagaimana lafal niat dzikir, saya juga tak pernah ada lafal niat sedekah. Padahal dzikir dan sedekah juga ibadah kan? Sedangkan kalau shalat, ada berbagai macam niat tergantung jenis sholatnya, apakah wajib atau sunnah, tergantung juga cara pelaksanaannya apakah jama’ah atau munfarid. Selain itu, jumlah raka’atnya juga disebutkan dalam lafadz niat shalat.

Amalan yang kita kerjakan itu harus selalu bersanding dengan niat. Itu yang menjadikan persoalan atau aktivitas kita menjadi ibadah. Jadi semua mesti ada niatnya.

…fungsi niat ini nanti akan membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lainnya. Maaf, apa bedanya antara sholat dhuhur dengan sholat ashar, bedanya apa? Niatnya. Waktunya? Betul. Tapi kalau Anda lakukan jamak, dikerjakan di satu waktu kan 4 rokaat juga. Diqoshor malah 2 juga. Apa bedanya sholat Shubuh dengan dua rokaat fajar, dua-duanya dua rokaat, gerakannya sama, salamnya sama. Bedanya dalam niatnya.

Nah sekarang, hadits riwayat Al Bukhori nomor hadits yang pertama

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Segala perbuatan kita bergantung pada niatnya.

Sekarang kita tarik dalam sholat. Kalau kita ingin sholat, kapan kita kemudian menghadirkan niat ini?

Niat itu Anda hadirkan dalam hati Anda bersamaan dengan takbir. Jadi, begitu Anda mengangkat tangannya begini (mengangkat tangan), lisan mengucapkan Allahu akbar, dalam hati Anda tujukan, saya berniat sholat dhuhur.

Shubuh misalnya, Anda angkat begini (mengangkat tangan), nah ucapkan kalimat … takbir. Anda angkat, angkat seperti ini Anda ucapkan dalam lisan Anda Allahu akbar, maka dalam hati Anda tujukan, “Saya niat sholat Shubuh”, saya niat sholat ashar, saya niat sholat Maghrib.

Ini sepakat semua ulama, niat itu tempatnya ada di hati. Jadi, niat termasuk amalan hati. Tapi nanti kita akan lihat kapan kemudian itu dilafadzkan. Kita akan lihat nanti.

Jadi pertama, semua ulama sepakat dari setiap amalan Nabi, dilihat diajarkan pada sahabat, pada para tabi’in, sampai kepada para ulama, disimpulkan kata mereka, niat amalan hati. Kalau sudah masuk ke lisan namanya lafadz.

Jadi, begitu Anda mengungkapkan, mengucapkan kalimat tertentu itu bukan niat, tapi lafadz. Makanya disebut dengan talafudz. Begitu Anda kemudian mulai menggerakkan anggota badan, itu disebut dengan halakat? Sudah mulai bergerak.

Kapan mulai menghadirkan niat itu? … saat Anda mulai bertakbir, …, tempatnya dalam hati, saat bertakbir, maka Anda hadirkan niat itu bersamaan dengan ucapakn Allahu akbar. Langsung dalam hatinya.

Menggunakan bahasa apa? Bahasa kita. Karena itu amalan hati, nggak perlu dilafadzkan. Karena itu orang Arab mengatakan ketika dia mulai berniat, dia angkat tangannya, dia ucapkan Allahu akbar. Orang Arab mengatakan usholli fardho dhuhri, saya berniat untuk dhuhur, Usholli fardu ashri, saya berniat untuk ashar. Saking mudahnya kalimat ini, karena itu tidak ada kalimat khusus dari Nabi. Silakan cek. Jangan datangkan hadits yang shahih, hadits palsu aja datangkan misalnya. Atau cari yang paling Anda temukan satu hadits tidak akan Anda temukan bahasan niat dari Nabi karena memang itu jelas gambarannya. Saking jelasnya tidak perlu diterangkan kembali.

Jadi, ini gambaran yang pertama, Anda angkat, ucapkan allahu akbar, hadirkan dalam hati ini maksudnya sholat A, sholat B, dan seterusnya.

Kapan kemudian ada petunjuk dan kemudian mulai diamalkan ketika orang mulai sholat, tiba-tiba dia lafadzkan niatnya, dia keluarkan menjadi lafadz, tidak hanya niat yang ada di dalam hatinya? Ini pertama kali terjadi dalam masanya turunan Asy Syafi’iyah. Asy Syafi’iyah itu bukan Imam Asy Syafi’i, tapi pengikut Imam Asy Syafi’i.

Disebutkan bahwa kata kelompok Asy Syafiiyah, Imam An Nawawi menyampaikan dalam kitabnya Al Majmu’. Jadi kitab An Nawawi namanya Al Majmu’ halaman 235, juz yang ketiga. … Beliau mengarang kitab Al Majmu’ juz yang ketiga halaman 235.

Beliau mengutip di situ mengutip pendapat Imam Ar Rafi’i bahwa ada sebagian dari pengikut Imam Asy Syafi’i keliru memahami lafadz ungkapan Imam Asy Syafi’i ketika menerangkan tentang niat. Imam Syafi’i menyampaikan, adapun niat dan lafadz dalam haji dan umroh itu harus dilafadzkan. Ingat. Niat dan lafadz dalam haji dan umroh. Jadi, ketika Anda mau haji, Anda mau umroh, Anda lafadzkan itu keluarkan untuk menguatkan niat yang ada dalam hati.

Makanya Nabi ketika berhaji dan umroh berlafadzkan, untuk menguatkan dalam hatinya.

 

Kalimat … dalam keterangan ini maksudnya sebagaimana dalam sholat, niat dipraktekkan tanpa harus menghadirkannya, tapi dipahami berbeda oleh sebagian dari kalangan Asy Syafi’i mengatakan bahwa sebagaimana dalam sholatpun maksudnya disamakan boleh dengan haji dan umrah.

Jadi, mereka mengatakan boleh saat mulai bertakbir, akan bertakbir. Maaf, tangannya akan mulai diangkat, maka boleh hadirkan niatnya dengan mengucapkan apa yang ada dalam hatinya. Maka muncullah kalimat usholli fardho dhuhri, usholi fardho ashri, usholli fardho maghrib,

Dikomentari ini dengan beragam oleh para ulama. Apa di antara komentarnya?

Imam Malik, menyampaikan, kata beliau, menyimpang dan makruh, mengucapkan niat dalam keadaan sholat. Karena jelas dalilnya menuju kepada bukan pelafadzan, dan contoh dari Nabi SAW pun tidak pernah hadir dengan kalimat-kalimat yang diungkapkan. Kata beliau, sholat itu termasuk yang paling jelas dalilnya, termasuk yang paling detil contohnya.

Kalau sekiranya Nabi kemudian pernah mengungkapkan kalimatnya dan dilafadzkan, tentu sampai sekarang pun kita akan temukan. Karena itu, jika Anda menemukan contoh paling jelas, kemudian disandingkan dengan tafsiran, tafsiran itu takwin yang sekiranya bisa menghadirkan kalimat lain, maka yang jelas lebih mulia untuk diikuti dibandingan dengan yang tahwin. Kecuali, kata pendapat Imam Malik, kalau sekiranya itu dihadirkan, dilafadzkan hanya untuk menepihkan was-was dalam keadaan sulit kita menunaikan sholat dengan khusyuk, jika itu tidak dilafadzkan.

Makanya teman-teman, kalimat usholli itu muncul asalnya, itu ketika seseorang mengalami was-was dalam sholatnya, dia nggak bisa khusyuk. Jadi, sudah mulai bertakbir, sudah merasakan macem-macem tidak bisa khusyuk, sulit. Karena itu ketika berkonsultasi kemudian kepada ulama …, dia katakan

Hi Syeikh, kok bisa seperti ini. Sulit menemukan kekhusyuan.

Maka beliau mengatkan, lafadzkan niatmu seperti Nabi melafadzkan niatnya dalam haji dan umroh, hukumnya disebut dengan qiyas. Khusus bagi orang ini yang tengah mengalami was-was luar biasa. Maka ketika dia melafadzkan niatnya, usholli dhuhri misal ya, arba’a roka’ati lillahi ta’ala.

Saya mau menunaikan sholat dhuhur 4 rokaat karena Allah menghadap ke arah kiblat, lillahi ta’ala. Dia takbir ternyata berhasil. Maka tersebarlah ini. Kata Syeikh ini dilafadzkan kemudian praktekkan, dari sini kemudian menyebar.

Asalnya, hanya untuk orang ini saja, dengan hukum yang khusus. Nah, ini seringkali lupa kalau ulama berpendapat, Anda mesti lihat, ada yang hukumnya khusus ada yang hukumnya luas. Nah, ini hukum khusus dipraktekkan pada orang ini, tapi disebarkan maknanya sehingga menjadi menyebar.

Akhirnya apa? Orang yang tidak membutuhkan lafadz itupun mengucapkan kembali. Dari sini kita ambil pendapat yang paling pertengahan. Kalau sekiranya sudah ada ketenangan dalam jiwa kita untuk memulai sholat, tidak perlu dilafadzkan, karena lafadz itu bukan bagian dari niat, itu amalan lisan.

Sedangkan Nabi SAW tidak pernah mencontohkan atau tidak memberikan dalil itu, kecuali jika Anda berada pada situasi seperti tadi, sulit menemukan kekhusyuan di situ, maka sekiranya Anda boleh menghadirkan lafadz itu untuk meningkatkan kekhusyuan.

Ustadz Adi Hidayat, Lc

Demikian pembahasan tentang bacaan niat sholat fardhu. Jadi, tidak ada contoh dari Nabi untuk mengucapkan niat sholat. Pelafalan niat sholat bermula ketika seseorang berkonsultasi kepada ulama tentang masalahnya ketika ia sholat ia muncul perasaan was-was. Pelafalan niat dimaksudkan untuk menghilangkan rasa was-was yang muncul saat hendak menunaikan sholat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *