Pembahasan Bacaan Niat Puasa Ramadhan

Terkait dengan niat dalam berpuasa, sesungguhnya Islam sudah mengajarkan satu tuntunan yang sangat mulia dalam seluruh ibadah, termasuknya adalah ibadah berpuasa, di mana Allah SWT menyebutkan di dalam Al-Qur’an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Dan mereka tidaklah diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Allah SWT dengan mengikhlaskan seluruh agama untuk Allah SWT. Oleh karenanya, seluruh ibadah tidak akan diterima oleh Allah SWT, kecuali harus ada niat. Dan niat sebagaimana dijelaskan oleh para ulama adalah al’azm a’la fi li syai

Yaitu keinginan kuat untuk mengerjakan sesuatu. Itulah yang disebut dengan niat. Demikian juga nabi SAW, beliau menegaskan tentang pentingnya niat. Beliau bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَ

Sesungguhnya amalan tergantung dari niatnya, dan segala sesuatu akan dibalas sesuai dengan niatnya.

Termasuk dalam ibadah tersebut adalah ibadah puasa. Sehingga puasa tidak akan diterima oleh Allah SWT, kecuali harus ada niat di dalamnya. Karenanya Nabi SAW, beliau juga menegaskan tentang pentingnya niat di dalam berpuasa. Dalam sebuah hadits dari Hafshah RA, beliau berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Man lam yajuma asy syiam, qoblal fajr fasiamalahu

Barangsiapa yang tidak meniatkan untuk berpuasa sebelum fajar, maka orang tersebut tidak ada puasa baginya.

Ini yang ditegaskan oleh Nabi SAW bahwa puasa tidak akan diterima oleh Allah SWT, kecuali ada niat di dalamnya, kecuali sudah diniatkan sebelum datangnya waktu Shubuh dan hadits ini adalah hadits yang shohih, yang diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan juga Al Imam Tirmidzi dan yang lainnya di mana Nabi SAW menegaskan tentang pentingnya niat bahwa seorang yang berpuasa harus ada nait sebelum Shubuh.

Para ulamapun menjelaskan tentang bagaimana niat tersebut. Sebagaimana disebutkan tadi bahwa niat adalah keinginan yang besar dalam hati kita untuk mengerjakan sesautu. Itulah niat. Maka para ulama menjelaskan bahwa niat itu ketika awal puasa, ketika awal masuk puasa, bisa seorang meniatkan dari awalnya bahwa saya akan berpuasa seluruh bulan, atau berpuasa di semua bulan yang ada, yaitu di bulan ramadhan tersebut. Selama satu bulan saya ingin berpuasa. Ini niat awal yang mencakup seluruh hari-hari yang ada di bulan Ramadhan. Dan yang demikian diperbolehkan.

Pada setiap harinya kemudian seorang meniatkan lagi sebelum masuk waktu fajar, waktu Shubuh, kemudian meniatkan kembali, maka yang demikian dipebrolehkan, dan itu dianjurkan. Namun, apabila tidak, cukup dengan niat yang pertama tadi, sebelum memasuki puasa yang pertama, niat dengan satu bulan ramadhan penuh pengen berpuasa, maka itu cukup.

Kecuali terputus di tengah jalan. Ternyata seorang sakit sehingga tidak bisa berpuasa dalam beberapa hari, maka harus niat kembali. Sehingga niat yang awal tadi tidak cukup untuk menjadikan itu sebagai niat untuk semuanya karena sudah terputus di tengah-tengah.

Seorang yang mengadakan perjalanan, kemudian setelah pulang kembali, maka dia berpuasa kembali, maka harus dengan niatan kembali.

Kemudian lafadz niat, yah terkait dengan lafadz niat. Sebagian orang mungkin meniatkan dengan lisannya, dengan ucapannya. Ya. Padahal Nabi SAW tidak pernah mengajarkan niat dengan dikeraskan, kecuali dalam beberapa hal saja, seperti dalam pelaksanaan haji, pelaksanaan umroh. Itu Nabi melafadzkan dengan suara yang jelas, suara yang keras. Selain dari itu maka niat ada di dalam hati kita. Sesuatu yang besar dalam hati kita untuk mengerjakan sesuatu itu disebut dengan niat. Hingga apa yang kita sering kita lihat, beberapa kaum muslimin yang mengucapkan niatnya ketika sholat, termasuknya ketika berpuasa diniatkan dengan lafadz yang jelas, maka itu tidak ada contohnya dari Nabi SAW sehingga kita meniatkan puasa di bulan ramadhan cukup apa yang ada dalam hati kita dengan niatan yang kuat, dengan niatan yang besar ingin mengerjakan sesuatu, maka itu sudah dianggap cukup sebagai niat itu menjadikan puasa di bulan ramadhan puasa yang sah, puasa yang diterima Insya Allah oleh Allah SWT.

Demikian

Ustadz Muhammad Romelan, Lc

Satu hal yang patut untuk kita sadari bersama bahwasanya niat itu adalah amalun qolbi. Niat itu adalah aktivitas hati. Maka seorang itu dikatakan berniat manakala di dalam hatinya terdapat keinginan untuk melakukan suatu hal. Maka niat itu maknanya adalah al irodah. Maknanya adalah berkeinginan. Dan niat itu adalah buah dari ilmu atau niat itu adalah ilmu itu sendiri.

Maksudnya, ketika seorang mengetahui bahwasanya besok itu ramadhan dan dia tahu, mengetahui itu besok adalah ramadhan dan dia berkeinginan untuk melaksanakan puasa ramadhan, maka itulah niat puasa ramadhan.

Maka di sini niat adalah dampak atau buah dari ilmu atau pengetahuan tentang satu hal. Seorang yang tahu ini adalah adzan dzuhur kemudian dia pergi ke masjid untuk sholat dzuhur, dia tahu ini adalah sholat dhuhur. Dan di masjid ini setelah iqomah akan dilaksanakan sholat dhuhur, maka orang yang ada pada dirinya pengetahuan tentang hal ini, dia telah berniat.

Jadi, niat itu adalah, maknanya adalah keinginan. Dan keinginan itu buah dari pengetahuan tentang satu hal atau bahkan dia adalah pengetauan itu sendiri.

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang masalah ini. Yaitu apakah niat itu adalah buah dari pengetahuan ataukah sama dengan pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu, maka yang tepat ketika kita berkeinginan untuk melaksanakan puasa ramadhan, tidak perlu kita mengikrarkan dengan lisan, dengan mengatakan

nawaitu somal hodi…. hadihissanati imanan wahisaban ruf a lillahi taala

Kalimat semacam ini tidaklah terlalu dilakukan karena beberapa alasan dan pertimbangan.

Yang pertama, kalimat ini adalah kalimat ibadah. Kalimat ibadah, karena niat untuk berpuasa adalah rukun dari puasa, maka dia berkaitan dengan masalah ibadah. Dan satu kaidah yang wajib diyakini oleh setiap muslim, hukum asal hal-hal yang berkaitan dengan masalah ibadah, ritual ibadah, ritual keagamaan dalam Islam, hukum asalnya adalah terarang, kecuali terdapat dalil yang menunjukkan kalau itu sesuatu yang dituntunkan. Dan dalam masalah ini tidak kita jumpai dalil yang menunjukkan bahwasanya ucapan-ucapan semacam ini satu hal yang dituntunkan. Oleh karena itu, maka orang yang suka membuat-buat bacaan-bacaan niat, kita jumpai mereka tidak konsisten. Sebagian ibadah ada bacaan niatnya, sebagian lagi tidak. Wudhu, mandi, sholat, puasa, ada bacaan niatnya. Namun, ketika orang mau beribadah kepada Allah dengan beradzan, dengan beriqomah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir setelah sholat fardhu tidak mereka buatkan bacaannya. Maka ini inkonsisten dan inkonsisten dan tidak konsisten dalam bersikap, itu menunjukkan adanya sesautu yang bermasalah dalam hal tersebut. Oleh karena itu, maka karena nabi tidak menuntunkannya dan tidak mengajarkannya, maka sebaiknya ditinggalkan.

Demikian juga satu hal yang patut untuk kita sadari dalam beribadah kita wajib ikhlas. Kita punya kewajiban untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT. Namun, satu hal yang harus digarisbawahi, seorang itu tidak boleh merasa telah ikhlas. Sebagaimana perkatan sebagian ulama salaf, siapa yang merasa dirinya telah ikhlas, maka ikhlasnya itu perlu diikhlaskan lagi agar menjadi bener-bener ikhlas. Dan ketika seorang itu membaca bacaan niat puasa ramadhan dibaca di masjid dengan suara yang keras, maka di situ terdapat perbuatan mengaku-ngaku ikhlas. Dia katakan bahwasanya puasa saya besok pagi tuh imanan wahdisa… Karena iman dan mengharap pahala kemudian dia umumkan illahi ta’ala. Maka dia umumkan satu kampung, satu masjid kalau dia besok mau berpuasa ikhlas karena Allah SWT semata. Maka ini satu tindakan yang tidak terpuji. Ikhlas satu keharusan, namun merasa ikhlas adalah satu keburukan. Maka menimbang minimal dua pertimbangan ini, maka sikap yang tepat jika kita ingin jadi muslim yang taat, muslim yang cinta nabi, muslim yang karena cinta Nabi, maka dia berupaya untuk mengikuti Nabi, maka dia tinggalkan bacaan niat puasa ramadhan atau bacaan niat puasa sunnah atau puasa yang lainnya.

Ustadz Aris Munandar, M.P.I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *