Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA) apakah sesat atau tidak?

MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an) merupakan suatu majelis yang mempelajari tafsir-tafsir Al-Qur’an, bukan menafsirkan Al-Qu’ran. Saya bukanlah pengikut MTA, tidak pernah mengikuti kajian MTA secara langsung di Solo, tidak juga di cabang. Saya menonton kajian MTA lewat MTA TV.

Awal-awal saya menyaksikan, sepertinya menarik bagaimana Pak Ahmad Sukino menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para jamaah. Saya mendapatkan banyak pencerahan dari ceramah beliau. Tapi, setelah beberapa kali saya saksikan, terkadang ada jawaban yang tidak ngeh dengan apa yang saya ketahui selama ini. Saya tidak bilang sesat, karena bukan kapasitas saya. Bahkan menurut MUI, MTA itu tidak sesat.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan di sini. Ini bukan fitnah. Lagipula apa untungnya menebarkan kebohongan. Jika Anda mengikuti setiap kajian MTA dan memerhatikannya dengan baik setiap ceramah Ustadz Ahmad Sukino, Anda harusnya tahu pemahaman-pemahaman yang saya sampaikan ini.

1. Tidak mempercayai kesurupan
MTA tidak percaya kesurupan di mana jin bisa masuk ke tubuh manusia, lalu membuat manusia tak sadar diri. Dari kecil saya sudah tahu kalau orang itu bisa kesurupan, dan fakta bahwa memang ada orang yang kesurupan.

Tapi, dalam kajian MTA, dikatakan kalau MTA itu tidak percaya dengan kesurupan yang seperti itu. Tentu saya tidak percaya begitu saja dengan anggapan seperti ini. Saya percaya kalau jin bisa merasuki tubuh manusia.

2. Sholat Jum’at wajib bagi perempuan
Sholat Jum’at itu diwajibkan bagi laki-laki. Ini sudah menjadi pemahaman umum umat Islam. Tapi bagaimana kalau ada yang mengatakan sholat Jum’at itu juga diwajibkan bagi perempuan? Wajib, bukan sunnah ataupun mubah. Karena hukumnya wajib, berarti kalau perempuan tidak sholat Jum’at, maka berdosalah ia.

Inilah yang pernah disampaikan Ustadz Ahmad Sukino dalam kajian MTA. Menurutnya, sholat Jum’at itu juga wajib dikerjakan bagi perempuan. Seingat saya, dalilnya adalah tentang wajibnya sholat jum’at bagi orang yang beriman (surat Al-Jumu’ah ayat 9). Ingatkan saya jika salah. Seingat saya, itu dalil yang digunakan.

Padahal ulama sudah sepakat kalau sholat Jum’at itu tidak wajib bagi perempuan. Adapun jika perempuan ingin menghadiri sholat Jum’at, itu tidak dilarang.

3. Penghasilan orang yang tidak sholat haram
Karena suatu alasan yang saya rasa tak perlu disebutkan di sini, ini yang membuat saya khawatir. Orang yang tidak sholat itu menurut MTA sama dengan kafir, dengan dalil hadits tentang perbedaan orang beriman dengan orang kafir adalah sholatnya.

Ini bisa dipahami jika ada orang yang mengaku Islam tapi tidak sholat, berarti ia termasuk kafir. Karena kafir, berarti tidak boleh menikahi orang Islam. Konsekuensinya, jika ada orang yang Islamnya kata orang Islam KTP lalu menikah dengan orang yang menjaga sholatnya, itu pernikahannya tidak sah. Begitu menurut pemahaman MTA.

Tentang penghasilan yang didapat dari orang yang tidak sholat, maka hasilnya haram. Ini tidak melihat bagaimana status pekerjaannya. Ini bukan menurut saya, tetapi berdasarkan apa yang disampaikan dalam kajian MTA.

——-

Seingat saya tidak hanya tiga hal itu yang menurut saya tidak sreg di hati. Saya ingin membahas hal ini sejak lama. Tapi karena sudah lama, saya hanya ingat tiga poin itu saja. Untuk hal-hal lainnya ternyata ada yang pernah membahasnya. Ada yang sudah mempublikasikan hal-hal yang katanya menyimpang berkaitan dengan materi kajian MT.

Saya tidak menuduh sesat. Saya hanya menyampaikan beberapa hal dalam kajian MTA yang menurut saya berbeda dari yang dijelaskan oleh ustadz-ustadz lainnya. Mungkin Pak Ahmad Sukino punya hujjah tersendiri, punya dalil pendukung. Tapi, karena hal itu, saya tidak tertarik lagi untuk menyimak kajian MTA.

Bagi Anda yang rutin mengikuti kajian MTA, barangkali bisa menjelaskan ketiga poin di atas. Itu tidak mengada-ngada, memang seperti itu yang disampaikan dalam kajian MTA. Sekali lagi saya tidak bilang MTA sesat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *