Keutamaan sedekah

Bulan ramadhan adalah bulan di mana Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semuanya untuk memperbanyak ibadah, memperbanyak amal, karenanya Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita semuanya berbagai macam bentuk ibadah. Di antara ibadah tersebut adalah untuk memperbanyak bersedekah, memperbanyak berinfaq di jalan Allah SWT. Dan sedekah itu memiliki makna yang luas. Makna sedekah yang luas itu dicakup dalam hadits Nabi SAW,
wainnurojula ala dabatihi fatahmiluhu alaiha
engkau menolong seseorang dan engkau naikkan di kendaraanmu,
autar faulahu waalaiha mataahu shodaqoh
Atau engkau membawakan barangnya, maka itu juga sedekah.

Wal kalimatutoyibatu shodaqoh
Perkataan yang baik juga merupakan sedekah.
Watabasunuka fi wajhi aqiqa shodaqoh
Senyummu kepada saudaramu juga merupakan sedekah.

Maka sedekah memiliki makna yang luas, makna yang umum, di mana seluruh kebaikan yang kita berikan kepada orang lain itu adalah masuk ke dalam makna sedekah. Sedangkan makna sedekah yang kedua adalah sedekah dalam makna yang khusus, yaitu memberikan apa yang kita miliki untuk orang lain. Memberikan harta yang kita miliki untuk saudara-saudara kita, maka itu masuk ke dalam makna sedekah yang lebih khusus. Di mana makna sedekah yang khusus ini lebih ditekankan kepada perkara di mana kita diperintahkan untuk menjauhkan diri dari sifat bakhil. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hasr ayat 9?
waman yuqosuhanafsihi faulaika humul muflihun
Dan barang siapa yang dijauhkan dari sifat bakhil dirinya, maka sungguh mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Saudara-saudara yang dimuliakan Allah SWT, Allah mengingatkan kaitannya sedekah dengan sifat bakhil. Bahwa seorang harus menjauhkan diri dari sifat bakhil, dari sifat kikir, sifat pelit, di mana itu adalah sifat yang sangat mengotori jiwa kita. Maka Allah SWT menegaskan bahwa orang yang dijauhkan dari sifat bakhil tersebut, maka sungguh orang tersebut adalah orang yang beruntung.

Oleh karenanya begitu pentingnya kita untuk melihat kepada diri kita, apakah kita termasuk dari orang-orang yang bakhil. Terkadang seorang tidak merasa bahwa dia termasuk dari orang-orang yang bakhil. Dia sudah merasa berinfaq, bersedekah, padahal dia tergolong ke alam orang-orang yang bakhil. Tentunya bakhil di dalam bersedekah itu masuk dalam perkara-perkara yang wajib untuk dikeluarkan. Zakat fitr(ah), kemudian zakat mal, yang itu wajib bagi seseorang untuk dikeluarkan, kemudian juga memberikan nafkah kepada keluarga dan semua yang wajib ditanggung, maka itu termasuk ke dalam kewajiban harta. Ketika seorang kemudian tidak melaksanakan perkara-perkara tersebut, maka di dalam Islam disebut sebagai orang yang bakhil, orang yang pelit, dan kikir.

Nabi SAW menyebutkan dalam sebuah hadits,
innallaha yabadusshodaqota biyaminihi, tsuma yurobbiha lil abdika mairobi ahaduhum faluhu?
Sesungguhnya Allah SWT akan menerima sedekah dengan tangan kannanya, kemudian Allah SWT merawatnya dan membesarkannya untuk hamba tersebut sebagaimana seorang dari kalian membesarkan anak unta.

Inilah perumpamaan yang disebutkan oleh Nabi SAW atas orang yang bersedekah. Seorang yang sedekah dengan sesuatu yang kecil ternyata dibesarkan oleh Allah SWT, dirawat dan dijaga oleh Allah SWT sehingga akan didapati pada hari kiamat menjadi satu yang besar, bahkan bisa jadi seorang yang bersedekah dengan satu biji kurma ternyata didapatkan pada hari kiamat sebesar gunung. Dan yang demikian akan banyak didapati oleh hamba-hamba yang pandai bersedekah, yang gemar bersedekah, tidak merasa bahwa dia sudah bersedekah karena Allah SWT, ternyata didapati pada hari kiamat pahala yang begitu besar, pahala yang sangat dinanti-nanti yang ada di sisi Allah SWT.

Nabi SAW memberikan contoh kepada kita tentang sedekah, terlebih di bulan ramadhan. Aisyah RA menyifati Nabi SAW demikian juga Ibnu Abbas radiallahuanhuma menyifati Nabi SAW,
kana rasulullahi saw ajwadunnas, wakana ajwadumayakunu fi ramadhan, falirasulillahi saw ajwadubilkhairi … mukhsalah

Bahwa rasulullah SAW beliau adalah manusia yang paling baik dan rasulullah saw semakin baik lagi tatkala berada di bulan ramadhan, dan sungguh rasulullah saw sangat banyak memberikan kebaikan seperti angin yang berhembus dengan kencang.

Inilah keutamaan bersedekah, yang langsung dicontohkan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, di mana Nabi SAW ketika memasuki bulan ramadhan, beliau sangat bersemangat untuk bersedekah, dan diumpamakan seperti angin yang berhembus dengan begitu kencang, tanpa ada rintangan, tanpa terhalangi. Begitu Nabi SAW memberikan sedekah, mengeluarkan sedekah, berinfaq di jalann Allah SWT.

Tentunya sedekah yang diterima oleh Allah SWT adalah sedekah yang baik, di mana Allah SWT menyebutkan di dalam Al Quran,
anfiqu min toyyibati ma kasabtum

Wahai orang-orang yang beriman, berinfaqlah dengan apa-apa yang kalian dapatkan.

Allah SWT memerintahkan kepada kita semuanya untuk berinfaq dengan harta yang baik, dengan harta yang halal, yang demikian juga dijelaskan oleh Nabi SAW dalam sebuah haditsnya,

innallaha tayyibun layadbanu illa toyyiban

Sesungguhnya Allah SWT itu maha baik dan Allah SWT tidak akan menerima kecuali yang baik.

Demikian Nabi SAW mengajarkan kepada kita semuanya untuk bersedekah dengan harta yang halal, dengan harta yang baik, yang kita dapatkan dengan cara yang benar, maka itu akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT, terlebih lagi di bulan ramadhan, bulan yang penuh dengan kebaikan. Bulan di mana pahala dilipatkan oleh Allah SWT, maka salah satu jalan beribadah tersebut adalah dengan memperbanyak bersedekah.

Kita menyaksikan bahwa Nabi SAW begitu kuatnya bersedekah di bulan ramadhan. Kita dapatkan pula para sahabat, mereka bersedekah, mereka berinfaq di jalan Allah SWT. Tatkala Allah SWT menurunkan ayat,

lantanalul birroh hatakun fikum mima tuhibun

Kalian tidak akan sampai kepada kebaikan, sampai kalian berinfaq dengan sesuatu yang kalian cintai.

Maka kita dapatkan Abu Bakar radiallahuanhu, beliau menginfaqkan seluruh hartanya. Kita dapati kembali Umar bin Khattab radiallahuanhu, beliau berinfaq dengan setengah dari hartanya. Kita dapatkan Utsman bin Affan radiallahuanhu, beliau menyiapkan pasukan perang yang lengkap, semuanya dari hartanya, dari infaqnya, dan sedekahnya.

Ketika mendengar ayat tadi, seorang sahabat memiliki harta yang banyak, dan tatkala mendengar ayat tersebut bahwa tidaklah sampai seseorang kepada kebaikan kecuali menginfaqkan apa yang dia cintai, maka dia mendapatkan harta yang paling dia cintai adalah harta yang ada di depan masjid, harta kebun yang ada di depan masjid, dan kemudian menghadap kepada Rasulullah SAW menginfaqkan kebun tersebut. Subhanallah. Bagaimana contoh dari para sahabat, mereka berinfaq di jalan Allah SWT. Abdurrahman bin Auf radiallahuanhu tatkala datang dengan membawa barang dagangan yang begitu banyak, sampai di jalan jalan Madinah semua terpenuhi dengan barang dagangan beliau radiallahuanhu. Maka tatkala itu ditawar oleh para pedagang Madinah, maka Abdurrahman bin Auf mengatakan, ada yang lebih berani dari itu semuanya. Dan terus demikian jawabannya. Ternyata di akhirnya beliau mengatakan bahwa harta ini semuanya di jalan Allah SWT.

Demikianlah sedekah yang dicontohkan oleh Nabi SAW dan juga para sahabatnya, yang mudah-mudahan kita semuanya bersemangat dan termotivasi dengan hal tersebut sehingga kita bersemangat bersedekah, terlebih lagi di bulan yang sangat mulia, bulan yang dilipatkan pahala kita semuanya.

Demikian wallahu taala alam bisshowab.

Ustadz Muhammad Romelan, Lc
2C0pcWFXtas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *