Jumlah rakaat sholat tarawih 11 atau 23 rokaat?

Dari mana asal-usul sholat tarawih 11 rakaat atau 23 rakaat? Sholat tarawih banyak dilakukan umat Islam secara berjamaah ketika bulan Ramadhan. Adapun untuk jumlah rakaatnya terdapat perbedaan, ada yang 11 rakaat, dan ada juga yang 23 rakaat.

Hukum sholat tarawih adalah sunnah. Untuk penjelasan lebih mendalam tentang sahalt tarawih, Anda bisa simak penjelasan Ustadz Khalid Basalamah yang sudah saya tulis dalam blog ini.

Tarawih artinya santai. Kenapa? Karena kita setelah sholat ba’diyah Isya, udah bisa langsung sholat malam, kan gitu. Kalau di hari-hari selain ramadhan, kita dianjurkan kerjakan di akhir malam. Atau tidur dulu lebih afdhol, gitu kan? Kalau Ramadhan nda. Memang lebih afdhol habis sholat ba’diyah Isya, langsung sholat. Karena Nabi SAW praktekin itu.

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan Nabi SAW besok mau masuk Ramadhan, beliau sholat, habis ba’diyah Isya sholat, dan ada beberapa sahabat yang ikut bersama beliau.

Lalu tersebar besok awal Ramadhan, tersebar berita kalau Nabi SAW semalam sholat, sholat malamnya dimajukan. Sholatnya sampai 11 rakaat, berarti sholat malam. Maka besok hari pertama Ramadhan, malam kedua tarawih.

Para sahabat ngumpul semua di masjid nabi, Nabi SAW tidak keluar sampai adzan Shubuh. Akhirnya, pas adzan Shubuh Nabi SAW keluar, kemudian mengimami mereka sholat. Habis Shubuh Nabi SAW khutbah. Setelah tahmid dan shalawat untuk diri beliau SAW, beliau mengatakan, “saya tau semalam kalian nunggu saya. Dan saya sengaja tidak keluar. Karena kalau saya keluar mengimami kalian lagi seperti kemarin, maka ini menjadi wajib buat kalian.

Artinya, silakan kerjakan, tapi jangan saya (maksudnya Nabi Muhammad SAW) terlibat, karena penentuan hukum ada di tangannya Nabi SAW. Bisa jadi wajib. Artinya silakan kerjain. Nah, itulah yang menyebabkan kenapa Umar bin Khottob mengerjakan secara berjamaah, karena Rasulullah SAW pernah praktekin, tidak melarang sahabat ikut.

Sholat tarawih yang dikatakan santai tadi karena kita bisa kerjakan habis ba’diyah Isya. Dan ini hikmah yang paling utama kata ulama, agar minimal di setiap buku amalnya seorang muslim, tercatat sholat malam setahun sekali. Minimal itu.

Dengan adanya tarawih, orang yang malas sholat tahajud dalam sebelas bulan, nggak pernah tahajud sama sekali, maka dengan adanya tarawih, kesempatan di buku amalnya tecatat itu: pernah sholat tahajud walaupun cuma sekali sebulan, walaupun cuma sekali setahun. Dalam Ramadhan itu. Itu hikmah yang paling utama, karena sholat malam adalah sholat yang paling afdhol setelah sholat lima waktu.

Jadi, ini penting sekali temen-temen sekalian. Maka jangan sia-siakan ini.

Sholat tarawih, mau 11 rakaat atau 23 rakaat, tidak ada masalah. Jangan ribut-ributan di sini, jor-joran di situ, nyalain si fulan, nyalain si fulan. Sholat tarawih itu sunnah, dikerjakan dapat pahala, ditinggalkan nda masalah. Tidak dikerjakan pun nda masalah. Betul kehilangan fadhilah, tapi lalu untuk apa ribut dengan 11 atau 23.

Saya akan jelaskan supaya lebih paham.

Temen-temenku sekalian. Riwayat yang menyebutkan tentang, dalam riwayat Bukhari, bahwasanya baginda Nabi SAW berkata: Aisyah tidak pernah menambah 11 rakaat di ramadhan atau di luar ramadhan. Kan riwayatnya begitu.

Maka ada pendapat ulama yang saya bahasakan pendapat pertama mengatakan, berarti sholat malam sepanjang hidup kita hanya 11 rakaat, tidak boleh lebih. Karena Aisyah menceritakan seperti itu. Bahwasanya Nabi SAW tidak pernah lebih di ramadhan di luar ramadhan sholat lebih dari 11 rakaat. Ini pendapat pertama.

Pendapat kedua mengatakan, tidak, lebih daripada itu. Itu jumlah bukan dipatok. Karena ummul mukminin Aisyah RA menceritakan tentang pengalaman dia yang dia tahu pada saat Nabi SAW lagi inginep di rumahnya.

Nabi kan poligami. Istri beliau 11 orang. Dan setiap orang 1 malam, cuma Aisyah mendapatkan 2 malam, karena Ummu Salamah RA menghadiahkan malamnya untuk Aisyah. Artinya, Nabi SAW bertemu dengan Aisyah setiap 9 malam. Per sembilan malam. Sembilan malam baru nginep lagi, sembilan malam baru nginep lagi.

Aisyah menceritakan malam yang nabi sedang ada karena sholat tahajud ini sholatnya dikerjakan kapan? Malam hari. Berarti cerita ini tentang malam hari. Aisyah menceritakan tentang malam mabidnya Nabi pada beliau. Umar bin Khottob adalah sahabat Nabi yang tegas sekali dengan bid’ah. Nggak main-main itu. Dan jangan lupa, salah satu daripada anaknya Umar juga umul mukminin, Hafshoh RA.

Waktu Umar bin Khottob bin zaman khilafahnya beliau melihat orang lagi di Masjid Nabawi berserakan, di sana ada yang duduk, di sana ada yang sholat, di sana ada yang sholat. Umar lihat, ini jadi fitnah nanti nih. Masing-masing sholat sendiri-sendiri, karena sholat malam sholat sendiri-sendiri aja. Maka sama Umar digabungin, kalau Rasulullah pernah sholat, kemudian orang lain ngikut, dibiarin oleh Nabi SAW. Sholat berjamaah.

Dan perlu digarisbawahi, perilaku Umar bin Khottob RA ini sangat kuat karena dua hal. Pertama, ijma’nya sahabat. Karena waktu Umar bin Khottob kerjakan, tidak ada satu sahabatpun yang menegur itu. Dan itu menandakan ijma’, kesepakatan. Dan kesepakatan sahabat ini adalah sesuatu yang paling kuat. Mereka sudah sepakat dengan itu. Nggak ada yang selisih dengan Umar RA. Kalau salah pasti ada yang negur. Sahabat itu tidak melihat siapa orang ini kalau salah dia langsung ditegur.

Umar bin Khottob pun biasa diingatkan oleh para sahabat yang lain kalau memang ada sesuatu yang Nabi SAW mereka tau melarang atau memerintahkannya. Tapi ini enggak, ijma’. Semua sepakat.

… ada hadits,

“Berpegang pada sunnahku dan sunnah kulafaur rasyidin setelah aku.”

Dan Umar termasuk salah satu dari empat kulafaur rasyidin. Gitu kan? Dan juga kata ulama, pendapat kedua ini, Umar bin Khottob bukan mustahil berpegang pada hadits juga yang shahih riwayat Bukhori.

Sholat malam itu dua rokaat, dua rokaat.

Maknanya, tidak ada batasnya. Selain makna utamanya maksudnya dua rokaat lebih afdhol salam, dua rokaat lebih afdhol salam, begitu. Tapi, juga maknanya adalah tidak ada batas. Maka Umar bin Khottob mengerjakan 23 rokaat. Dan sekarang di Saudi, tidak ada perselisihan. Lihat Masjid Haram Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, berapa rokaat mereka sholat? 23 rokaat.

… dan fatwa ulama sudah jelas masalah itu. Boleh, dua rokaat pun boleh, 11 rokaat boleh. Jangan salahin orang yang 23. Karena sudah jelas fatwa ulama dan jelas pendapat ini. Saudi pun menerapkan Mekkah dan Madinah sholatnya 23 memang. Udah biarin aja, gitu kan.

Bahkan fatwa ulama di Saudi sekarang membolehkan. Pernah ditanya beberapa Masyaikh, khusus 10 terakhir ramadhan. Kan 10 terakhir ramadhan kalau kita lagi umroh, atau kita lagi di Mekkah, bapak ibu kalau lagi umroh di akhir ramadhan, maka program di Saudi itu, di dua masjid besar ini, Masjid Haram Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah yang menunjukkan rujukan umat Islam, itu mereka sholat tarawih 23 rokaat, tapi khusus 10 terakhir, witirnya nggak ada.

Witirnya ditunda di sholat malam di atas jam 12 malam. Ada lagi sholat malam 8 rakaat plus 3 witir. Jadi, kalau digabung 31 rokaat. Pernah ditanya kepada para Musaikh, boleh nggak saya ikut tarawih yang 20 rakaat, plus saya ikut lagi yang 11 rakaat malam?

Jawabannya serentak boleh. Silakan. Karena ada hadits Nabi, …

Sholat malam dua rokaat, dua rokaat.

Selama mampu silakan kerjakan. Ini sudah fatwa umum. Maka teman-teman sekalian, kita harus pahamin masalah ini. Jangan berselisih dengan hal-hal yang tidak perlu di sini ya. Hormatin masjid-masjid. Kalau ada yang mau mengatakan berupa pada pendapat pertama, hak dia.

Jangan salahin orang yang punya pendapat kedua. Orang pendapat kedua jangan salahin orang pendapat pertama. Silahkan.

Cuma memang kesempatan emas kita untuk memperbaiki atau memperbanyak amal. Sudah terlalu banyak tadi hujjah saya sampaikan. Seperti tadi saya sudah jelaskan fatwa para ulama tetang hadits Aisyah yang ditanggapin. Kemudian juga perilaku Umar bin Khottob yang jauh sekali, tegas dengan bid’ah. Dan ada salah satu anaknya ummul mukmin, Hafshoh juga di situ, dan berpegang pada hadits

Kemudian sekarang Saudi menerapkan, dan sudah saya jelaskan panjang lebar dan seterusnya. Ah, saran saya begini. Ini saran saya. Kalau bapak ibu mau sholat tarawih, kalau niatnya mau kerjakan yang 11 rakaat, maka cari masjid yang 11 rakaat. Kalau mau sholat yang 23 rakaat, cari masjid yang 23 rakaat. Karena apa? Karena ada hadits lain, bunyinya begini:

Kata Nabi SAW: Siapa yang sholat bersama imamnya, sampai imamnya bubar,… dicatatkan baginya sholat malam semalam suntuk.

Nah, kalau kita masuk masjid yang 11 rakaat dan kita niat 11 rakaat, imamnya sampai witir, lalu kita bubar, itu dapat pahala seperti habis sholat Isya, ba’diyah Isya, sholat malam salam berdiri lagi, salam berdiri lagi, sampai Shubuh, semalam suntuk kita sepertinya sholat. Tapi syaratnya harus sama imam bubar.

Jadi kalau imamnya 23, kita bubar 11 rakaat, kita nggak dapet fadhilah ini.

Tentu boleh, bukan tidak boleh. Sekali lagi ya, saya sudah pakai bahasa Indonesia yang jelas, ya. Boleh kalau imamnya 23, kita 11, boleh, bukan tidak boleh. Dua rokaat pun boleh, nda sholat pun nda berdosa. Jadi, jangan dibesar-besarin.

Tapi, kita mau kejar kalau mau kejar fadhilah mendapat pahala semalam suntuk sholat, memang sampai imamnya bubar. Artinya selesai sholat, bubar ini bukan berarti dia keluar dari masjid ya. Sudah nggak sholat lagi. Udah witir, 11 rokaat, kita juga

Ustadz Khalid Basalamah

Nah, itulah penjelasan tentang jumlah rakaat shalat tarawih. Memang di Indonesia sendiri ada perbedaan jumlah rakaat dalam pelaksanaan shalat tarawih, misalnya saja NU dan Muhammadiyah. Tidak usah diributkan, karena tidak sholat tarawih pun tidak berdosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *