Hukum ramalan zodiak bintang dalam Islam

Hukum Ramalan Zodiak

Dukun, ahli nujum, adalah yang dimaksud semua di dalamnya peramal, penyamun, penyihir, ini semua masuk dalam kategori yang dibahas di sini. Hanya saja dukun lebih fokus kepada penyihir biasanya. Dan peramal lebih dikatakan ahli nujum.

Makanya Imam Madahbir rahimahullah membedakan keduanya. Tetapi secara hukum sama saja. Kita diharamkan mendatangi dengan cara bertanya kepada dukun, peramal, penyamun, penyihir, siapapun dia, laki-laki dan perempuan, berkedok apapun dia, beralasan agama apapun dia. Walaupun muslim tetap hukumnnya haram. Tidak boleh sama sekali kita datang kepada mereka. Karena apa? Karena seluruh dukun, seluruh ahli nujum pasti berinteraksi dengan jin. Dan berinteraksi sama jin, apalagi minta tolong sama merea hukumnya haram, tidak dibolehkan. Mereka selalu berusaha mencuri saja informasi dari langit sebagaimana sudah pernah saya sampaikan riwayat tentang batu meteor yang jatuh, kemudian baginda nabi saw menjelaskan kepada para sahabat, kalau itu adalah anak-anak panah malaikat yang dilemparkan kepada syaiton yang berusaha untuk mendengarkan, untuk mencuri informasi dari langit.

Dan banyak di antara mereka yang terbakar dengan anak-anak panah tersebut, sementara yang lolos di antara mereka akan datang menbawa informasi kepada teman-temannya, daripada dukun, peramal, penyamun, penyihir ini, menginformasikan kepada mereka berita dari langit. Kata Nabi SAW dan dari seratus berita, 99 semuanya dusta. Hanya satu yang benar. Yang benar pun itu karena dia mencuri informasi dari langit. Kalau hadits ini sudah jelas bagi kita teman-teman dengan sanad yang shahih, lalu untuk apa seseorang di antara kita masih pergi untuk meramal tangannya, meramal wajahnya, meramal nasibnya, dan bergantung pada nujum. Nujum adalah bintang-bintang.

Seperti sekarang dari kecil kita sudah dicekoki. Kamu bulan sekian, lahirnya berarti bintang kamu ini, bintang kamu itu. Dan tidak sedikit di antara kita beli majalah hanya untuk membaca terkaan ahli nujum ini. Diterkalah warna favoritnya bulan ini, diterkalah rezekinya, diterkalah jodohnya, diterkalah makanan favorit, dan segala macam hal.

Dan ini teman-teman, dari zaman dulu, dari zaman orang-orang filosof dari Yunani. Mereka sudah melakukan dan mereka percaya semua itu, bintang-bintang sagitariuslah, taurus, dan semua ini adalah nama-nama dewanya mereka. Dan kalau antum masih menarik dan percaya itu berarti percaya sama dengan dulu, orang-orang yang tidak punya Tuhan. Mereka percaya dengan dewa-dewa.

Semua itu tidak benar. Dan semua itu diharamkan. Tidak dibolehkan, teman-teman sekalian.

Seorang muslim punya pondasi dasar. Sesuatu yang telah berlalu, yang dia kerjakan, kalau baik dia bersyukur, kalau salah dia minta maaf sama Allah. Clear bagi dia. Sesuatu ke depan, dia dioptimiskan dalam syariat untuk berbuat. Buat, selama masih bernafas, lakukan.

waqulli amalu, kata Allah
wasayarohi amalu warosul

Berbuatlah, beramallah, maksimalkan, allah dan rasulnya akan melihat perbuatan kalian. Artinya Allah SWT akan menilai itu, rasulullah saw nanti hari kiamat bertemu dengan kita dan tahu. Oh ini pengikutku, ini umatku yang patuh dan ini umatku yang tidak patuh.

Kata Nabi SAW dalam hadits lain kalau di tangan seseorang di antara kalian ada bibit yang dia mau tanam dan dia tahu besok terjadi kiamat, tetap ditancapkan. Tidak ada kata pesimis dalam Islam, semuanya optimis. Semuanya yakin dengan beramal. Tidak ada sesuatu yang ditebak-tebak, tapi sesuatu yang pasti. Rutinitas kita sudah jelas, mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang haram, mana yang makruh, mana yang mubah. Kita sudah tahu semuanya. Dari makanan, dari minuman, dari pergaulan, dari pendapatan, semua kita sudah diberitahukan dalam syariat.

Maka orang muslim tidak butuh peramal. Untuk apa diramal, teman-teman sekalian? Untuk apa datang kepada orang-orang yang menebak-nebak, tidak jelas. Padahal kita sudah tahu masa lalu kita kalau salah ada syariat menjelaskan, ini salah lho. Oh, berbuat zina, bohong, riba, dan seterusnya. Caranya, taubat, clear.

Kita berbuat amal sholeh, kita sempat sholat, alhamdulillah, syukuri. Saya akan terima hasilnya hari kiamat. Tidak ada tebak-tebak ini. Ini pasti. Allah tidak akan pungkiri janjinya. Sesuatu yang masa depan, lakukan yang terbaik.

Sampai dikatakan dalam pepatah bahasa arab, kalau hari ini lebih baik daripada hari kemarin, kau telah beruntung. Dan kalau seandainya hari besok lebih baik daripada hari ini, kau adalah orang yang paling sukses.

Karena sesuatu yang kalah bagi seorang muslim, semuanya jelas bagi dia. Tidak butuh nujum, tidak butuh terkaan-terkaan bintang. Bisa benar bisa salah. Terlebih lagi memang mendatangi mereka, konsultasi dengan mereka, coba-coba bertanya pada mereka, hukumnya dosa besar. Kalau percaya, kafir, keluar dari agama Islam.

Dalam surah al hujurat, surah hujurat ini sebenarnya menjelaskan tentang masalah sangka. Semua ilmu nujum, ilmu peramal ramalan, ilmu dukun, semuanya sangka. Semuanya prasangka.

Mereka bertanya juga kepada kita, mereka juga berusaha mengatakan baik, serahkan kepada saya ini, serahkan kepada saya itu syaratnya. Kemudian mereka suruh kembali nanti. Kenapa disuruh kembali? Mereka juga bersangka, jadi tahu. Lalu untuk apa kita minta tolong sama mereka, teman-teman sekalian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *