Hukum jual beli pulsa apakah termasuk riba?

Zaman di mana komunikasi banyak dilakukan lewat HP, kita memerlukan sesuatu yang disebut pulsa. Dengan pulsa, kita bisa menelepon atau mengirim SMS lewat HP. Untuk mengisi pulsa, kita bisa datang ke konter pulsa dengan melakukan isi ulang pulsa atau dengan memberi voucher pulsa.

Umumnya kita harus membayar lebih mahal ketimbang pulsa yang kita dapatkan. Misal, kita beli pulsa Rp10.000, tapi kita harus membayar Rp12.000. Apakah ini termasuk riba?

Transaksi berupa kita menyerahkan uang Rp12.000, tapi kemudian kita hanya mendapatkan Rp10.000, ini memang termasuk riba, dan itu termasuk riba fadl. Dengan catatan transaksi ini dalam bentuk uang ditukar dengan uang, rupiah dengan rupiah.

Bagaimana dengan pulsa?
Pulsa tentu saja berbeda dengan uang. Pulsa bukanlah uang. Jual beli pulsa sebenarnya merupakan transaksi jasa, bukan transaksi tukar menukar uang dengan uang. Memang benar cara penyebutannya pulsa 5 ribu, pulsa 10 ribu, dan seterusnya.

Kalau bukan uang, tapi kenapa penyebutannya pakai nominal uang? Hal ini karena di Indonesia belum ada satuan pulsa. Misal saja, pulsa seliter, dua liter, kita tidak punya satuan semacam itu untuk pulsa.

Hal ini berbeda ketika ornag beli bensin. Ketika membeli bensin, orang bisa membeli bensin dengan menyebutkan sekian lier. Atau ketika membeli kertas, kita bisa sebutkan beli kertas yang ukuran sekian sentimeter. Sedangkan kalau beli pulsa, tidak ada satuannya.

Untuk itu, satuan yang dipakai para provider pulsa di Indonesia adalah satuan rupiah. Tapi dengan penggunaan satuan rupiah, apakah ini jadinya tukar menukar antara uang dengan uang ketika kita beli pulsa? Bukan, jual beli pulsa bukan tukar menukar antara uang dengan uang, melainkan jual beli layanan.

Misal, Anda membeli jasa senilai Rp10.000, kemudian Anda membayar Rp12.000, bolehkah hal ini dalam Islam? Tentu boleh. Pemilik layanan berhak menetapkan harga jasa yang ia tawarkan, sebagaimana pemilik barang berhak menetapkan harga barang yang ia punya.

Selama harga jasa yang ditawarkan relevan, diperbolehkan, asalkan tak terlalu tinggi dari harga pasaran. Selisih yang ada bukanlah termasuk riba, karena pada hakikatnya jual beli pulsa tidak termausk tukar menukar uang.

Demikian penjelasan tentang hukum jual beli pulsa. Disusun berdasarkan ceramah Ustadz Ammi Nur Baits di Youtube.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *