Hukum Bacaan Doa Qunut Shubuh

Bacaan doa qunut Shubuh telah lama menjadi perdebatan, apakah ini sunnah atau bid’ah. Bagi sebagian muslim, tidak perlu membaca doa qunut ketika shalat Shubuh, sedangkan sebagian muslim lain membaca doa qunut  pada saat shalat Shubuh. 

Contohnya saja di Indonesia pembacaan doa qunut dalam menjalankan shalat Shubuh adalah hal yang biasa bagi warga NU, sedangkan untuk warga Muhammadiyah tidak melakukannya. Namun, kedua organisasi ini sudah saling memahami, karena ini masuk dalam ranah khilafiyah.

Lalu masalahnya bagaimana kalau kita sholat Shubuh di masjid yang imamnya qunut, sedangkan kita biasanya tidak, atau sebaliknya?

Apa hukumnya qunut yang dikerjakan setiap Shubuh? Anda berbicara hukum berarti saya mesti jelaskan turunan hukum. Inget, bedakan ini ya. Ada hukum dan sikap hukum itu beda.

Hukum dan sikap hukum, kalau sikap hukum itu pilihan seseorang untuk menentukan dan memilih hukum mana yang sesuai.

Tapi kalau hukum saja, itu berarti semua turunan hukum yang dipesankan oleh Al Qur’an dan sunnah. Misal, hukum tentang bismillah itu bisa dibaca empat cara dalam sholat. Bisa dijahrkan, di-sirr-kan, tidak dibaca sama sekali, atau dibaca rokaat pertama, selanjutnya tidak.

Tapi sikap kita terhadap itu memilih salah satu. Itu sikapnya…. Kalau hukumnya sudah ada pilihan, tapi sikap hukumnya berbeda, sepanjang dalam kerangka hukum itu tidak perlu kita kemudian berselisih.

Sepanjang dalam kerangka hukum yang sama. Karena kita tidak mungkin memaksakan seseorang selalu sama dengan kita. Kecuali kalau pada hukum yang sifatnya satu dalil, satu contoh, dan tidak ada sikap lain kecuali itu saja. …

Nah, sekarang tentang qunut. Kisahnya dimulai di saat Nabi SAW dalam fase dakwah. Di awal-awal masa Islam di Mekkah, tiba-tiba kedatangan tamu dari distrik Bi’r Ma’unah. …

Menyampaikan bahwa”Ya Muhammad, ya rasulullah, di tempat kami orang-orangnya masuk Islam”, semuanya masuk Islam. Awal masa dakwah kedatangan informasi satu desa, bedol desa masuk Islam. Kira-kira senang atau tidak? Senangnya luar biasa. Maka mereka minta dikirimkan guru-guru untuk mengajar.

Dikirimkanlah oleh Nabi SAW 70 orang penghafal Quran. 70 orang penghafal qur’an di saat-saat masa awal-awal keislaman tidak banyak penghafal qur’an, dikirimkan 70 orang ke sana.

Singkat cerita, ketika beliau sedang menunaikan sholat, dalam riwayat disebutkan sholat Shubuh, yang lain mengatakan sholat Maghrib, tiba-tiba turun malaikat Jibril menyampaikan bahwa orang-orang tadi yang datang kepadamu Muhammad, mereka menipu. Karena ternyata orang-orang itu ketika sampai di Bi’r Ma’unah semuanya didzolimi, bahkan dieksekusi dan syahid. Jadi, mereka semua dibantai, dibunuh. Jadi, ada yang menipu mengatakan masuk Islam, dikirimkan pengajar, tapi kemudian disakiti dan didzolimi.

Nabi dengan sikap kemanusiaannya marah pada saat itu, kemudian beliau berdoa kepada Allah SWT. Ada yang mengatakan doanya sebelum rukuk, ada yang mengatakan bangkit dari rukuk. Maka beliau mengatakan:

Ya Allah tolong hukum si fulan, tolong laknat si fulan

Bahkan disebutkan sebagian dari suku-sukunya. … Itu berlangsung selama sebulan.

Hingga turunlah kemudian qur’an surat ketiga Ali Imron ayat 128-129. Posisi paling kanan sebelah bawah di mushaf standar. …

Ayat 128 ini poinnya.

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Ketika nabi berdoa dengan kalimat hukum “Ya Allah, laknat si fulan Ya Allah”, tiba-tiba ayat yang turun itu begitu mengejutkan.

“Muhammad, kamu tidak punya hak untuk menghukum seseorang, atau melaknat seseorang, karena dia pernah berbuat salah. Hak Allah untuk menentukan siapa yang dilaknat atau untuk menghukum seseorang.”

Ini ingin memberikan keterangan kepada Nabi SAW, bahwa tugas nabi itu berdakwah dalam kebaikan, sekalipun cuman berdoa. Maka bila bisa doa yang baik-baik, maka hindarkan doa yang tidak baik.

Ingin mengajarkan bahwa Muhammad, kamu masih berada di awal dakwah. Jangan cepat merasa panas, kemudian cepat menyinggung minta dihukum dan sebagainya. Kalau nanti sikapnya seperti itu, nanti lama kelamaan nggak ada bedanya dengan umat terdahulu.

Nabi Nuh ketika umatnya mulai menyimpang, minta kepada Allah. “Ya Allah, saya telah berdakwah Ya Allah. Umat ini nggak mau menerima Ya Allah”. Maka turun adzab Allah SWT.

Kamu untuk umat terakhir sampai dengan kiamat. Kalau sikap sekarang minta umatnya dihukum, maka bagaimana dengan sikap dan keadaan mereka nanti sampai kiamat.

Jangan-jangan nggak ada umat nanti sampai kiamat, karena nabinya belum apa-apa sudah minta kemudian untuk menghukum. Maka turun ayat untuk meluruskan kepada Nabi supaya berdoa dalam kebaikan-kebaikan.

Ini bukan Nabi salah. Bukan. Nilai kemanusiaan yang menjadikan bahwa mereka penipu, sedangkan ini masih ada di awal dakwah. Tapi, Allah kemudian menanamkan kesabaran dalam diri Nabi. Yang paling indah, turunlah kemudian ayat ini. Setelah ayat ini turun, terjadi 2 peristiwa.

Satu, Nabi tidak membacakan lagi doa tadi.
“Ya Allah tolong laknat si fulan, ya Allah hukum si fulan”.

Tapi kemudian merubah doanya menjadi doa yang baik. Dalam bahasa Arab, sesuatu yang baik yang dimohonkan kepada Allah SWT singkatnya disebut dengan qunut namanya. Qunut, permohonan yang baik-baik, sebagai ketaatan kepada Allah. Karena Allah perintahkan berdoa dengan yang baik, maka sifatnya disebut dengan qunut.

Maka peristiwa yang pertama, fokus, nabi tidak membacakan doa itu lagi, lalu mengajarkan kepada cucunya, Al-Hasan, kepada sebagian sahabatnya doa yang terbaik sebagai pengganti doa yang ini.

Maka kemudian ada yang meriwayatkan Nabi tidak pernah membacakan doa itu lagi. Dicukupkan. Tapi kemudian sahabat mempraktekan doa itu dalam sholatnya.

Ada yang menggunakan saat witir, ada yang menggunakan saat ramadhan, di 10 malam terakhir, bahkan ada yang menggunakan dalam kesempatan sholat Shubuhnya. Dan itu didiamkan oleh Nabi SAW.

Bahkan ada sebagian mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menggunakan itu dalam sholat Shubuh. Walaupun sebagian memandang riwayatnya lemah, ada yang mengatakan yang lain riwayatnya kuat.

Dari sini, karena Nabi SAW tidak mempraktekkan doa yang tidak baik tadi, kemudian mengajarkan doa yang baik ini, dan beliau mendiamkan sahabat yang mempraktekkan, tidak melarangnya, maka di sinilah kemudian para ulama melihat itu, lalu menyikapi dan mengambil kesimpulan dengan 3 kesimpulan, karena Nabi tidak mengatakan langsung.

Kalau Nabi mengatakan “sudah nggak usah berdoa”, selesai masalah. Kalau Nabi mengatakan, “berdoa ya, ini bagus”, selesai masalah. Tapi Nabi mendiamkan dan sikap diamnya Nabi, dalam implikasi hukum itu bisa menerangkan beberapa pilihan-pilihan hukum.

Maka Imam Abu Hanifah mengatakan, karena Nabi sebelumnya tidak baca doa, dan setelah itupun beliau tidak baca doa lagi, setelah turun ayat tadi, maka beliau menyimpulkan doa qunut itu. Makanya saat Shubuh tidak perlu membaca doa qunut. Selesai. Imam Abu Hanifah.

Imam Malik, Imam As Syafi’i menyimpulkan, Nabi SAW baca doa. Doa ini diganti oleh Allah untuk yang baik-baik. Dan kemudian diajarkan oleh Nabi kepada sahabat, sahabat membacakan, Nabi tidak melarang.

Ini artinya, itupun dibenarkan kalau dibacakan. Maka dari itulah Imam As Syafi’i, Imam Malik mempraktekkan doa qunut ini. Imam Malik membacakan sebelum rukuk. Jadi begitu membaca surah di rakaat yang terakhir dalam sholat Shubuh, itu Imam Malik mempraktekkan qunut, tapi qunutnya nggak jahr, sirr. Makanya setelah baca surat agak lama, itu sedang baca qunut dalam Shubuh.

Imam As Syafi’i memilih riwayat yang setelah rukuk. Rukuk, i’tidal, samiallahulimanhamidah, robbana walakalhamd, lalu membacakan ini dalam shubuhnya. Plus Imam Asy Syafi’i Malik dan Syafi’i maksudnya. Allahummahdini fiman hadait dan seterusnya.

Imam Akhmad bin Hambal mengambil jalan tengah. Ini Nabi sebelumnya nggak berdoa. Ada peristiwa besar terjadi yang membutuhkan doa, kemudian Nabi berdoa dengan itu. Setelah itu Nabi tidak berdoa lagi. Ini artinya doa ini bisa dihadirkan dalam peristiwa-peristiwa yang menuntut doa itu disertakan oleh kita karena ketidakmampuan kita berada di sana.

Peristiwa dahsyat, besar, yang meminta kita atau menuntut kita menghadirkan doa itu dalam bahasa Arab disebut dengan nazilah. Nazilah. Maka dikenal dengan istilah qunut nazilah, doa qunut yang dibacakan ketika terjadi peristiwa genting yang membutuhkan doa. Yang ada di Palestina. Yang ada di Aleppo kemarin. Yang ada di Syria dan sebagainya. Maka dikenal dengan istilah qunut nazilah.

Tiga-tiganya disepakati oleh para ulama, baik di zaman itu sampai di zaman kini. Ini ijtihad para ulama yang dibenarkan dan sah dilakukan ketika memilih satu di antara ketiganya. Karena Nabi memang memberi peluang yang sama untuk bisa mengerjakannya atau tidak sama sekali.

Jadi, di masa bahkan Imam As Syafii beliau pernah berkunjung ke tempat Imam Abu Hanifah setelah beliau meninggal. Imam Syafii qunut. Abu Hanifah dan muridnya tidak. Begitu sampai ke tempat Imam Abu Hanifah, murid Imam Asy Syafii mengatakan, ketika Imam Syafi’i diminta jadi imam. …

Murid Imam Syafi’i mengira, Imam Asy Syafi’i akan qunut. Mereka mengatakan, pendapat kita akan unggul di sini. Tapi ternyata ketika sholat Shubuh, Imam Asy Syafii tidak qunut.

Apa kata muridnya setelah sholat? Kenapa Anda tidak qunut? Kata beliau, saya menghormati pendapatnya Imam Abu Hanifah yang berlaku di tempat ini.

Masya Allah, Imam Syafii qunut, tapi ketika berkunjung ke tempat yang tidak qunut, beliau tidak mempraktekkan qunut. Imam Ahmad bin Hambal juga, masya Allah, beliau qunutnya nazilah, tapi ketika beliau berada di tempat Imam Asy Syafi’i, beliau qunutnya qunut seperti biasa, bukan nazilah lagi.

Jadi, di sini indah sekali. Para ulama, sholeh, hafal quran, menulis kitab hadits, dekat dengan Allah, saling menghormati satu sama lain. Walaupun beda pendapat, tapi masih bisa minum teh sama-sama, tersenyum sama-sama, dan ada dalam kebaikan.

Antum, bukan imam besar, jadi makmum juga jarang, hafal quran juga tidak, hadits belum dituliskan. Masya Allah, kenapa masalah ini jadi pada ribut? Yang qunut benar, yang tidak qunut benar, yang salah yang tidak sholat shubuh. Selesai.

Nah, sekarang selesai sederhana. Jika imamnya qunut, antum ikut qunut. Mengaminkan. Selesai. Persoalan mengangkat tangan atau tidak, itu persoalan lain. Tidak harus mengaminkan mengangkat tangan.

Saya tadi shubuh imamnya qunut. Saya mengaminkan, tapi tidak harus mengangkat tangan. Kalau imam dia berdoa, boleh mengangkat tangan. Jadi begitu mengatakan allahuma dait, saya katakan amin. Karena makmum itu tugasnya mengikuti imam.

Dan kalaupun imamnya nggak qunut, antum biasa qunut, antum nggak usah qunut. Apalagi imam salam, antum sujud sahwi, itu nggak usah. Awas jangan terlampau sholeh di sini. Awas. Karena tugas makmum itu mengikuti imam. Imam rukuk, antum rukuk. Imam sujud, antum sujud. Imam qunut, antum qunut. Imam nggak qunut, antum nggak usah qunut. Selesai ya. Gampang sebetulnya.

Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA

Jadi, pembacaan doa qunut saat sholat Shubuh masuk dalam ranah khilafiyah (terjadi perbedaan penadpat di kalangan para ulama). Bahkan ada anekdot begini, sekarang warga NU dan Muhammadiyah sudah tidak ribut lagi masalah qunut Shubuh, karena yang shalat Shubuh berjamaah di masjid sudah jarang.

Yang qunut silakan, yang tidak qunut juga tak masalah. Yang masalah yang tidak shalat Shubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *