Hukum aqiqah untuk dewasa

Pendapat pertama mengatakan, tidak ada lagi aqiqah setelah lewat tujuh hari dari masa lahir, nda ada aqiqah. Sudah. Gugur kewajibannya, dianggap dia tidak mampu. Kecuali dalam keadaan dia memang lupa. Oh ternyata ini hari kedelapan, mustinya kemarin saya aqiqahkan nih. Nah itu lupa, lain. Hukum lupa lain.

Tapi kalau dia tidak mampu, pendapat pertama ini ya, pendapat sebagian ulama mengatakan, maka tidak ada lagi, gugur.

Pendapat kedua, ada pendapat dan saya pernah tanyakan kasus ini ke beberapa masaikh? di masjid Nabawi, jawaban mereka boleh saja, karena ada hadits yang shohih riwayat Bukhori berbunyi

Semua bayi yang baru lahir itu marhunatun bi aqiqatih, dia terikat dengan aqiqahnya.

Maka hadits ini mutlak, secara mutlak menjelaskan kepada kita, orang itu terus terikat selama dia belum diaqiqahkan. Maka dari hadits ini, mereka mengatakan juga hadits ini lebih kuat secara hukum, secara derajat hadits, daripada hadits yang menyuruh menyembelih pada hari ketujuh. Artinya, pendapat kedua mengatakan, hadits tentang menyuruh menyembelih di hari ketujuh itu afdholiyahnya?, bukan kewajibannya.

Tapi di sini, menggantungkan seseorang itu pada aqiqahnya, ini masuk dalam mutlaknya, wajibnya. Jadi, dia tetap terbebani selama dia belum aqiqah. Afdhol hari ketujuh, kalau tidak mampu kapan saja dia mampu dia lakukan.

Jadi, pendapat kedua ini berarti boleh-boleh saja. Allahu ‘alam.

Kita lihat insya allah, ada hadits bukhori yang lain, kata aisah radialohu anha, Nabi SAW tidak pernah dipilihkan dua hal, dua perkara kecuali beliau pilih yang paling mudah.

Yang antum rasa plong hati antum, selama ada pendapat ulama dan memiliki dalil, jalani insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *