Fiqih jual beli: syarat sah dan rukun jual beli

Tidak seorangpun manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang tidak ada satupun yang memenuhi seluruh kebutuhanny, melainkan membutuhkan bertransaksi, bermuamalat dengan pihak yang lain. Agar perpindahan barang ini dan uang ini ke pihak yang lain, dibenarkan dalam syariat dan agar barang tersebut bisa anda gunakan, agar jasa tersebut halal untuk anda, dan agar uang tersebut dan keuntungannya benar-benar menjadi rizki anda yang diberkahi, maka yang penting untuk anda perhatikan adalah poin-poin dalam muamalat yang menyebabkan muamalat tersebut menjadi halal dan dan dibolehkan. Yang dikenal juga dengan istilah para ulama dengan rukun dan syarat jual beli.

Poin pertama bahwa jual beli, transaksi, akad dilakukan oleh orang ahliyatu tassaruf? orang yang berhak dan boleh berwenang dalam melakukan transaksi, yaitu orangnya telah baligh, kemudian berakal, kemudian tidak ada paksaan. Tidak dipaksa. Dalam akad tersebut tidak ada paksaan dari salah satu pihak untuk orang untuk orang ini melakukan akad itu. Bila ada paksaan dari pihak yang lain, maka Allah telah melarangnya.
Ya ayuhaladzina amanu la ta kullu awanamkum baynakum bil batil…an tarodi minkum

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah makan harta sebagian anda dengan sebagian yang lain dengan cara yang bathil, kecuali dengan perniagaan yang kalian saling ridho.

Maka orang yang terpaksa dalam sebuah akadnya, dalam bentuk umpamanya guru memaksa muridnya, atasan memaksa bawahannya, pihak yang memberikan pinjaman memaksakan kepada yang menerima pinjaman, untuk melakukan sebuah transaksi, maka ini adalah transaksi yang terpaksa, yang menyebabkan perpindahan perpindahan barang dan uang ke pihak yang lain tidak dibenarkan dalam syariat.

Poin selanjutnya, ada akad, ijab, dan qobul dari kedua belah pihak ini. Pemilik barang umpamanya, mengatakan saya jual, atau dia melakukan penyerahan barang. Pihak pembeli menerima, atau mengatakan saya beli. Bisa dilakukan dengan kata-kata, dan juga bisa dilakukan dengan perbuatan. Dua hal ini dijelaskan oleh para ulama secara turun-temurun. Dan ijma’ dua-dua bentuk transaksi ijab dan qobul dengan perkataan dan dengan perbuatan, sesuatu yang telah biasa dilakukan dan sepakat para ulama membolehkannya.

Persyaratan selanjutnya bahwa barang tersebut barang yang dihalalkan, barang yang suci, bukan najis. Maka setiap barang yang diharamkan, dan ini kaidahnya sangat besar sekali, banyak parsial-parsial bagian-bagian juz’iyat? daripada barang yang diharamkan, …..
dan hal-hal yang diharamkan manfaatnya, maka tidak boleh diperjualbelikan. Yang najis juga tidak boleh diperjualbelikan. Betapa banyak dalam kehidupan sekarang benda-benda najis berasal dari babi dan turunannya, dalam bentuk gelatin, dalam bentuk lemak, dalam bentuk bulunya, dalam bentuk tulangnya, dan dalam bentuk hal-hal yang lainnya, diperjualkan tanpa memperhatikan yang dibolehkan dan yang dilarang oleh Allah SWT.

Kemudian jelas barangnya dan jelas harganya. Barang yang jelas dan harga yang jelas demi memelihara hak kedua belah pihak. Agar tidak menimbulkan kecekcokan, perseteruan, di antara yang mentransaksi. Anda melakukan transaksi ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan anda. Bisa transaksi ini menjadi alat untuk perekat dan pererat hubungan anda dengan pihak yang lain, bila dilakukan dengan hal yang sesuai syar’i. Barang jelas, harga jelas. Tapi bila barang tidak jelas, atau harga tidak jelas, yang sering terjadi adalah permusuhan. Ini yang diinginkan oleh syaton, dalam bentuk perjudian?..

Bahwa setan menginginkan anda terjatuh dalam permusuhan dan perseteruan di dalam perjudian.

Jual beli barang dan harga yang tidak jelas, termasuk bagian dari hal ini yang menyebabkan kedua belah pihak dalam bermuamalat menjadi sebab rusaknya renggang hukuman mereka. Andai mereka tidak melakukan transaksi ini, hubungan satu dengan lainnya mungkin baik. Tetapi semenjak mereka melakukan transaksi yang seharusnya ini perekat, tapi karena tidak memperhatikan kaidah-kaidah syar’i, maka dia menjadi sebuah alat, bumerang, menjadi penyebab keretakan sebuah hubungan yang baik di antara dua anak manusia dan di antara dua orang muslim.

Kemudian barang telah dimiliki. Tidak bisa kita menjualkan barang yang belum dimiliki. Rasulullah mengatakan,
la ta bi mala???
Lalu tidak ada larangan-larangan dalam jual beli ini. Tidak ada unsur riba, tidak ada unsur kezaliman. Yang riba adalah dosa besar. Anda ingin memenuhi kebutuhan anda dengan bertransaksi dengan pihak lain, tapi apakah harus kebutuhan ini dipenuhi dengan dosa, dengan kemurkaan dan kemarahan Allah.

ziba wazina.. ahalu bi azabilah
Tidaklah riba dan zina menggejala di sebuah masyarakat, melainkan perbuatan mereka ini mengundang azab Allah.

Yang Anda inginkan bukankah terpenuhinya kebutuhan anda? Bukan azab yang anda inginkan. Yang kita inginkan keuntungan dunia dari sebuah transaksi jual beli, bukan adzab Allah. Maka ingat, jangan pernah larangan Allah ini kita lakukan, walau atas nama apapun juga. Bila ini anda perhatikan dalam setiap transaksi anda, semoga allah swt meridhoi transaksi (yang) anda lakukan, dan semoga Allah memberkahi rizki yang anda dapatkan dari transaksi ini.

Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi, MA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *