Cara meningkatkan daya ingat dalam islam

Pertama, ada empat cara kalau Anda ingin dikuatkan oleh Allah dalam menghafal, atau belajar mengingat sesuatu.

Pertama, ada empat sifat hafalan. Satu, ada orang yang cepat menghafal. Jadi, begitu disampaikan cepat hafalnya. Dan sulit lupanya. Sulit lupa. Jadi, cepat hafal, sulit lupa, lambat lupanya. Satu, ini yang bagus.

Yang kedua, lambat hafalnya, tapi lambat juga lupanya. Jadi ingatnya lama, setelah nempel, nempel juga, susah lupanya.

Yang ketiga, cepat hafalnya, cepat lupanya. Jadi, baru dihafalkan begini, oh hadits nomor sekian. Keluar dari masjid, lupa lagi. Misalnya.

Yang terakhir, ini agak repot. Lambat hafalnya, cepat lupanya. Sudah ditulis-tulis, begitu dihafalkan, langsung lupa. Ah ini yang berbahaya.

Anda pilih mana di antara yang empat ini? Cepat hafal, lambat. Kalau bisa, cepat hafal, tidak lupa-lupa. Jadi, ada orang-orang tertentu yang masya Allah, hafalnya cepat. Bukan mau ingat, mau ngelupa susah. Bukan mau ingat, mau lupa susah. Ada yang begitu tuh. Di antaranya Imam Sulaiman, dikenal dengan Abu Dawud, yang lahir tahun 202 Hijriyah, Abu Dawud Asy isnani? Itu ulama yang sangat luar biasa. Ketika menghafal cepat, mau lupa susah.

Al Bukhori, Abu Huroiroh dan sejenisnya.

Nah, kalau Anda ingin menemukan tipikal yang demikian, diantara tata caranya, Anda bisa buka di kitab at ibyad? karangan Imam An Nawawi, saya rangkum cepat saja.

1. Meluruskan niat
Meluruskan niat saat mau belajar. Biasanya kalau orang belajar itu umumnya niatnya ada dua, kalau di psikologi pendidikan. Ada intriktif, ada ekstriktif. Jadi, intriktif itu untuk dirinya sendiri, mengumpulkan hafalan.

Jadi, belajar misalnya, intrinsik, jadi, mendapatkan sesuatu untuk mengumpulkan pengetauan. Untuk kumpul aja. Di psikologi modern yang saat ini.

Jadi, ada orang yang saat menghafal cuman pengen tau, ini pengen berilmu saja. Ada ekstrinsik. Ekstrinsik itu mengumpulkan ilmu untuk tujuan yang lain. Kalau bahasa anak sekolah sekarang, menuntut ilmu untuk dapat kerjaan, menuntut ilmu untuk dapat ijazah. Jadi, ilmu itu cuman jembatan saja, yang penting kerjaan dicapai. Yang seperti ini yang agak bahaya ini, karena saat kerja ilmunya lupa.

Nah, Islam tidak keduanya. Islam tidak pada keduanya. Karena Islam ini memadukan keduanya dengan niat namanya, dengan niat. Kalau Anda belajar hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan yang melekat pada diri sendiri. Diri, pribadi sifatnya.

Karena sifatnya manusiawi, diri pribadi, setiap manusia pasti punya keterbatasan. Terbatas. Kalau batasnya ini sudah hilang, maka ilmu tidak mudah untuk diserap. Misal, semakin sepuh kan daya ingat semakin berkurang. Berarti setiap pribadi pun punya keterbatasan. Tapi kalau Anda inginkan untuk kepentingan yang lain. Dunia. Maka saat dunia dicapai, ilmupun bisa berkurang.

Kalau Anda ingin mendapatkan ilmu yang terus menempel, melekat di dalam jiwa, tidak hilang, maka titipkan, mintakan, niatkan untuk yang tidak pernah punya batasan. Siapa? Allah. Maka kalau Anda ingin belajar menghafal, melakukan sesuatu, lakukan karena Allah. Itulah sebabnya ketika Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk belajar, wahyu yang pertama turun apa?
Jangan sampai situ, sempurnakan. Karena ketika wahyunya turun dengan menggunakan iqor, Nabinya tetep enggak bisa baca. Perhatikan, perhatikan. Lihat sejarahnya. Saya kira ustadz khalid sudah mengajarkan barangkali. Ketika malaikat turun, dalam Shirah An Nabawiyah, lalu mengatakan iqro di gua Hira, Nabi menjawab apa? Ma ana bi qori? Saya enggak bisa baca. Turun lagi, sampaikan, iqro, baca. Kata beliau, saya enggak bisa baca. Sampai tiga kali.

Ketika yang ketiga dipeluk oleh Jibril, dia menyamar jadi laki-laki, itu dipeluk, dipegang erat, disempurnakan kalimatnya. Lihat kalimatnya.

Iqro bismirobbikalladzi kholaq.

Jadi, pelajar muslim harusnya begini.

Wahyu turun iqro

Saat kalimatnya disempurnakan, seketika Nabi bisa mengikuti bacaannya. Seakan-akan ada isyarat di sini, hei Muhammad, baca. Jangan karena engkau tidak pernah punya guru yang mengajarkan, kamu tidak pernah bisa ada kesempatan untuk belajar, tidak punya kemampuan untuk membacakan sesuatu. Lakukan semua itu, bismirobbi, karena Tuhamu. Niatkan karena Allah, inginkan karena Allah. Dia menciptakan kamu saja begitu mudah, apalagi membuat kamu bisa mengikuti bacaan. Maka ketika sesuatu dia lakukan karena Allah, Nabi yang tadinya tidak bisa mengucapkan bacaan itu, ditanamkan oleh Allah qurannya dalam dirinya. Maka turunlah quran, eh dibacakan oleh beliau, baru bisa membaca. Iqro iqro iqro, mengikuti bacaannya.

Di sini ada isyarat, mohon maaf ya, jangankan yang susah, jangankan yang sulit, yang mustahil pun, kalau anda lakukan karena Allah, maka akan dimudahkan oleh allah.

Saya usia sudah 70 tahun pak kayaknya kalau untuk menghafal al quran, ah sudah hilang kesempatannya, apalagi qurannya setebal ini misalnya. Anda 70 tahun. Ada yang 82 tahun enggak bisa baca enggak bisa nulis, cuman mendengar saja, dua tahun hafal quran.

Dua tahun hafal quran. Anda yang bisa baca, bisa nulis, masya Allah, masa sudah dua tahun belum hafal-hafal juga. Sampai kapan?

Karena itulah, kalimat bismi dalam ayat iqro, ba-nya menggunakan alif. Cuma ayat ini yang kalimat ba-nya menggunakan alif. Sedangkan kalimat bismillah yang lain, bismillah .. rahim, ba-nya enggak ada alif-nya. Jadi, kalau di mushaf Anda tidak ada alifnya, itu salah itu mushafnya, keliru tulisannya, harus ada alifnya. Karena tanda alif ini menunjukkan peristiwa bahwa alif itu menunjukkan panjang, sesuatu proses yang panjang.

Umumnya, kalau harokatnya ba ada harokat kasroh bi, itu alif enggak ada. Kalau ada ya wajar, tapi alif enggak ada. Karena alif itu biasanya menunjukkan satu makna huruf yang dibaca aaa panjang.

Kok bisa yang ini harokatnya ba kasroh tapi ada alifnya? Ingin menunjukkan pesan kepada kita bahwa ini menunjuk satu kisah ada orang yang ketika diminta baca panjang prosesnya. Enggak bisa bisa. Tapi ketika dilakukan karena Allah, begitu cepatnya. Saking cepatnya, pengen cepat, dikuasai. Jadi, sudah bisa dibacakan, pengen cepat-cepat. Sampai turun ayat di quran surah 75 ayat 16 sampai 18.
la turhamni disanakalita jalabi
Muhammad, jangan cepat-cepat engkau lafadzkan itu untuk sekedar menghafalkannya.

Kenapa?
Ina jama nahu wa qurana

Karena kami sudah tanamkan itu dalam jiwamu.

Orang-orang yang mengingat, menghafal karena Allah, dia tidak akan cape meningatnya. Allah yang akan tanamkan apa yang diingatnya dalam jiwanya.

Mungkin agak sulit mengingat sesuatu, coba cek niatnya, sudah benar belum kenal Allah. Ya kan ke sini ketemu temen, pengen cuma lihat ustadznya macem-macem dan sebagainya yah

Yang kedua kesungguhan. Ada kesungguhan. Sungguh. Di antaranya mencatat, berdoa. Jadi, sebelum belajar, berdoa dulu.
allahuma fakih lil fidin waalimi takwim

Allah akan kuatkan, Insya Allah.

Yang ketiga, tingkatkan amal sholeh. Ini intinya, tingkatkan amal sholeh, karena ilmu itu cahaya. Cahaya Allah itu hanya akan diturunkan kepada orang beramal sholeh.

Dan yang terakhir, meninggalkan maksiat. Jauhi maksiat., Kalau Anda sudah mengerjakan yang keempat ini, maka insya Allah, Allah akan jaga kekuatan ingatan Anda dan selalu berada dalam kebaikan.

Ustadz Adi Hidayat, Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *