Cara mencari jodoh dalam Islam

Ketika Allah menyebutkan berpasangan, jodoh kita, itu disebutkan laki-laki dan perempuan. Jadi bukan laki-laki laki-laki, perempuan perempuan. Itu keliru. Allah tidak menciptakan Siti dan Hawa. Allah ciptakan Hawa dan Adam. Jadi berbeda, laki-laki dengan perempuan, dan dari situ kita lahir.

Dan itu semua hukumnya berlaku untuk seluruh makhluk. Jadi binatang pun begitu.

Segala hal kami ciptakan berpasangan supaya kita bsia mengingat allah swt.
hanya allah yang tidak berpasangan.

Bahkan yang tidak bernyawapun, silakan cek, ada langit ada bumi, ada siang ada malam, ada hitam ada putih.


Bagaimana cara kemudian bisa mendapatkan pasangan dalam kehidupan itu? Lihat rumusnya. Ikhtiar.
Waj alnakum syuu.. ?
Kami jadikan kalian berbeda-beda tempat. Suuf? itu masyarakatnya yang terpisah. Kalau sekarang RT, RW, kelurhan, kecamatan, kabupaten, provinsi, kemudian negara. Jadi, silahkan ikhtiar. Kalau belum ketemu, cek di sekitar RT, barangkali ada yang cocok kan. Tidak ketemu, beda RW yah. Tidak ketemu lagi, berarti beda kelurahan. Cek lagi terus, kecamatan ya. Silahkan cek. Mungkin yang di Jawa jodohnya di Papua, yang di Papua jodohnya di Sumatar. Bisa terjadi. Provinsi. Masya Allah.

Kalau enggak ketemu juga di Indonesia, jodoh Anda mungkin ada di Afrika, ada di Arab, ada di Amerika, bisa ketemu. Dunia ini begitu luas. Masa dari sekian perempuan nggak ada yang cocok untuk Anda? Anda siapa? Atau sebaliknya, di antara yang laki-laki enggak ada salam untuk anda???

Anda pasti ada ketemu insya allah kalau anda mau berikhtiar. Kecuali kalau anda mendambakan bidadari di akhirat. Saya mah nanti bidadari aja di akhirat….

Tapi sepanjang di dunia yarhamukallah??? silahkan berikhtiar.

Bahkan waqodain? waqodai?

Beda suku misalnya, nggak ada masalah di sini. Boleh menikah dengan perempuan sekampung? Tidak boleh. Bagaimana perempuan sekampung dinikahi? Satu aja cukup, satu.
Menikah dengan perempuan sekampung itu haram hukumnya. Cukup satu, tidak bisa dua, tiga, empat, sekampung kebanyakan.

Jadi lihat, di kampung ada enggak yang cocok dengan Anda. Satu suku, satu RT, satu RW, dan sebagainya.

li ta arofu
Ini yang ikhtiar, ta’aruf

Ada a’fora, ada ta’arofa itu beda.

Kalau ‘arofa, itu kenal, tahu. Orangnya disebut arif. Orang yang sudah kenal, sudah tahu.

Kalau ta’aruf,

Jadi kalau anda ingin mencari pasangan, kata Allah, setelah menemukan tempat-tempat tadi, ada dikira cocok misalnya dengan baik, maka dalil quran bukan pacaran. Bukan bertindak misalnya yang maksiat dan sebagainya. Maka usaha yang serius untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya.

Dan makna saling ini tidak harus kemudian antar personalnya. Bisa juga melalui orang-orang yang kenal dekat dengannya. Tanyakan pada dia. Atau kalau sudah jelas, sampaikan maksudnya. Dalam konteks pertanyaan tadi, kalimatnya diawali dengan saling mengenal dulu. Jangan cepat-cepat menyampaikan maksud. Jangan kelihatan sedikit begini, tiba-tiba langsung antum sampaikan. Tidak. Kenali dulu siapa dia. Dan pengenalannya keluarkan kriteria sunnah Nabi SAW. Jangan cuman beberapa ciri fisikal. Tidak.
Kata Nabi,
tun kahul mar atulil arbait
Perempuan dinikahi dengan empat motivasi, empat hal. Pertama, li jamaliha??? karena cantiknya. Tapi, bukan jamilah di sini, tapi jamal. Kalau jamilah, itu cantik fisikal. Tapi kalau jamal, itu sifat, sifat kecantikan yang diridhoi Allah SWT.

Kalau diteruskan ke hadits-hadits Nabi, cantik itu ternyata bukan dalam keadaan fisik yang relatif. Kan orang bilang cantik itu relatif kan, kalau jelek mutlak gitu kan? Tapi dalam konteks ini, apa yang menjadikan cantik itu relatif? Ternyata ada kaitan dengan akhlak. Saya mau tanya sebentar. Cantik mana sayyidah Khadijah dengan Zaenab, istri nabi? Antum pernah lihat? Cukup katakan wallahu a’lam, nggak usah mengarang. Ingat saya katakan, pelajaran mengarang cuman ada di bahasa Indonesia. Di sini enggak usah dipakai. Kalau enggak pernah lihat, cukup katakan wallahu a’lam

Zaenab binti ..? begitu cantik luar biasa. Orang melihat, mata tidak berkedip, wajah tidak menoleh, saking cantiknya.

Karena itu ketika Nabi menikah dengan Zaenab, fitnah muncul.

Tapi dari beliau tidak pernah punya keturunan.


Sayyidah Aisyah disebut dengan khumairah, cantik kemerah-keramahan, tapi tidak disebut dalam mimpi nabi. Siapa yang disebut? Sayyidah Khadijah.

Padahal Sayyidah Khadijah ketika dinikahi oleh Nabi SAW dalam keadaan beliau janda, telah menikah dengan laki-laki lain, dan punya anak juga, dan Nabi sayang dengan beliau, cintanya luar biasa. Masya Allah.
Apa yang menjadikan begitu dicintai oleh Nabi? jamalah, adalah faktor keindahan melekat pada dirinya.

Dilukiskan di al bukhari nomor hadits yang keempat, posisi paling kanan sebelah bawah.

Ketika Nabi SAW turun dari gua hira,


Bagaimana seorang suami dengan segala kegelisahannya, begitu lihat istri, tiba-tiba tenang. Begitu mendengar kalimat istri, nyaman jiwanya. Padahal dibandingkan dengan kecantikan orang lain, belum tentu sama. Tapi indahnya luar biasa. Sampai kemudian ketika Sayyidah Aisyah mengatakan ingin berusaha menyaingi Khadijah radiallahutaala anha. Bukan cemburu biasa, bukan. Ingin seperti itu, ingin disebut dalam mimpi nabi. Kata beliau, apa sih keistimewaannya? Masya Allah. Kata Nabi, dia perempuan pertama yang beriman kepadaku saat semua yang lain ingkar. Dia perempuan yang menginfaqkan semua hartanya untuk sukseskan dakwahnya.

Sampai kemudian Nabi mengatakan dalam kuburnya, Ya Khadijah, Ya Khadijah, Ya Khadijah.

Masya Allah, itu luar biasa. Jadi penghuni surga, itu sayyidah Khadijah.

Maka kalau Anda mencari misalnya dengan konsep ta’aruf, cari silahkan. Ada miniaturnya di istri-istri Nabi. Makanya Nabi diperkenankan menikah dengan lebih daripada empat perempuan. Kalau Anda belajar lebih dalam lagi, ikuti kajiannya tentang istri-istri Nabi, ternyata karakteristik perempuan-perempuan di muka bumi, itu nampak nanti pada istri-istri Nabi SAW. Jadi, dari yang paling cemburuan, sampai yang paling perhitungan, ada Pak. Sebelum menikah dengan Nabi. Tapi ketika menikah dengan Nabi, diarahkan kepada hal yang positif. Cemburunya urusan ibadah, perhitungannya urusan ibadah. Dulu urusan belanja, tapi ketika dididik oleh Nabi, tiba-tiba bagaimana satu kurma jadi ibadah. Bagaimana saya bisa menyaingi sholat sunnah teman saya yang satunya. Bagaimana supaya saya bisa menyaingin ibadah dia. Itu selalu begitu.

Jadi, faktornya bukan cuman cantik. Hati-hati. Ada orang yang cantiknya luar biasa, cantiknya 100%, cerewetnya 1000% misalnya, kan repot juga. Tidak mudah situasinya nanti.

Kemudian yang kedua, limaliha, hartanya.
Ada sering orang mengatakn karena harta bendanya, kayanya, dan sebagainya. Bahkan ada ungkapan-ungkapan yang tidak elok. Lebih baik mencari misalnya, ada kalimat yang tidak tepatlah, tidak perlu saya ungkapkan, perempuan yang sudah ditinggal suaminya tapi kaya, dibandingkan dengan yang gadis tapi biasa-biasa. Itu nggak tepat kalimat ini. Nggak tepat. Memang ada orang motifnya begitu. Tapi yang dimaksud dalam kalimat ini bisa dipahami dengan makna lain, yang bisa me-manage harta suaminya. Jadi begitu dapat suami penghasilan, dia bisa berbagi di rumah dengan baik, tempatkan di tempat yang bagus. Cari yang begitu.

Bukan cuman, ah antum cari misalnya, mohon maaf ya, antum penghasilan lima juta, cari perempuan yang zakat malnya saja, maaf, zakat mall-nya saja 10 juta, nggak akan nyambung. Antum penghasilan lima juta, dia zakat mall-nya 10 juta. Begitu keluar ke mall, ke sini, antum repot nanti. Tertekan terus, tertekan terus, dan sebagainya.

Yang ketiga nasabnya. Cari dari siapa dia, dari kalangan terbaik akan menurunkan kebaikan-kebaikan. Cari misalnya bagaimana pendidikannya, bagaimana kedekatannya dengan Allah, bagaimana cara orang tuanya, kerabatnya, dan sebagainya.

Dan yang terakhir lidiniya, ini yang paling penting, agamanya.

Pilih yang paling utam agamanya, maka anda akan beruntung.


Jadi, teman-teman sekalian. Untuk ta’aruf itu caranya. Amati dulu, lihat, kalau sudah cocok kelihatan, lalu kemudian sampaikan. Cara menyampaikannya, kalau tadi masih kurang ada keberanian, sampaikan dengan orang terdekatnya. Sampaikan, nyatakan, supaya tehindar dari maksiat-maksiat yang tidak diinginkan. Dulu orang-orang Arab sering membuat kalimat-kalimat yang indah. Kadang-kadang ngambil syir? tertentu, di makna yang lain, cuman ditarik ke dalam bahasa dia. Ada syir? nya Abu Nuwaz misalnya, ilahillas tulil firdaus, …nari jahili..

Asalnya itu taubatnya Abu Nuwas

Ustadz Adi Hidayat, Lc
FPtRzfCbtw0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *