Benarkah tidurnya orang berpuasa itu ibadah?

Terkait dengan tidur di siang ramadhan apakah itu merupakan ibadah ataukah bagiamana pandangan islam (terkait hal tersebut)?

Kita tahu nikmat yang besar yang Allah berikan kepada kita semuanya adalah kesempatan kita untuk berada di bulan ramadhan, beribadah di bulan ramadhan, dan memakmurkan bulan ramadhan, sehingga keluar dari bulan ramadhan membawa ampunan Allah SWT dan dijauhkan dari nerakanya.

Terkait dengan hadits tersebut (hadits tentang tidurnya orang berpuasa adalah ibadah). Ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang perkara yang ditanyakan tadi, disebutkan di dalam sunan al baihaqi dan disebutkan dalam su’abul iman? dari abdullah bin abi aufa RA, bahwa nabi saw bersabda

naumusshoim ibadah, washomtuhu tasbih, wadua uhu mustajab, waamaluhu muthoaf
Bahwa Nabi SAW bersabda, tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, dan diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, dan doanya orang yang berpuasa itu dikabulkan, serta amalan orang yang berpuasa itu akan dilipatkan pahalanya. Hadits tersebut dijelaskan oleh para ulama hadits bahwa sanadnya lemah. Di dalam sanad hadits tersebut terdapat rawi Ma’ruf bin hasan, yang dihukumi oleh para ulama, dia adalah rawi yang dhaif, rawi yang lemah. Demikian juga di dalam sanadnya ada Sulaiman bin Amr An Nakho’i, bahkan dia lebih lemah lagi dariapda Ma’ruf bin hasan, sehingga para ulama ketika mengomentari hadits ini, diantaranya Al Imam Al Iroqi Di dalam takhrij Ihya ‘Ulumuddin, beliau menyebutkan bahwa Sulaiman An Nakho’i akhadul kadzabin? adalah seorang perawi yang pendusta.

Kemudian juga Al Imam Al Munawi di dalam faidul qodir? beliau mendhoifkan hadits ini. Termasuknya juga adalah Al Imam Al Albani rahimullahi ta’ala di dalam silsilah a hadits dhoifah? hadits yang ke-4696, beliau mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dhaif.

Dari penjelasan para ulama hadits tadi, kita bisa mengetahui bahwa itu adalah hadits yang lemah. Bahkan ketika disebutkan bahwa seorang rawinya adalah pendusta, bisa masuk ke dalam hadits yang palsu. Oleh karenanya, kewajiban kita adalah meninggalkan hadits tersebut, tidak boleh mengamalkan hadist tersebut. Dan kita yang mengetahui hadits tersebut tidak boleh menggunakan hadits tersebut, menyampaikan hadits tersebut kepada orang lain, menyampaikan dan bahkan mungkin mengamalkan hadits tersebut karena haditsnya adalah hadits yang tidak bisa diamalkan.

Dan makna dari hadits ini, kalau kita perhatikan, ini maknanya bertentangan dengan syariat Islam secara umum, bahwa Islam mengajarkan kita untuk bersemangat. Islam adalah agama yang penuh dengan mujahadah, penuh dengan kesungguhan, agama yang jauh dari malas-malasan, agama yang jauh dari berleha-leha, berhura-hura, dan kesan yang ada dalam hadits tersebut bahwa seorang muslim itu suka tidur, suka malas-malasan, tentunya ini tidak benar dan tentunya bertentangan dengan Islam.

Oleh karenanya, seharusnya seorang muslim disuruh bersikap sebaliknya, bersikap bersemangat di bulan ramadhan. Tentunya terkait dengan tidur, ini adalah hukumnya adalah mubah. Secara hukum asal adalah mubah. Oleh karena seorang ketika butuh untuk tidur, silahkan tidur. Ketika butuh untuk bersemangat, maka segera bersemangat.

Sehingga Nabi SAW pernah menyebutkan dalam sebuah haditsnya,
wa innah li jasadika alaika hakun
Sesungguhnya badanmu juga punya hak, di antara hak badan tersebut adalah hak untuk tidur.

Menyikapi sebagian kaum muslimin yang memahami hadits ini, atau bahkan mengamalkan hadits ini, maka sungguh seharusnya mereka bersegera untuk kembali kepada Allah SWT, dan segera merapikan diri, segera beramal dengan hadits-hadits yang shahih, karena hadits ini bertentangan dengan syariat Islam.

Seorang yang di malam harinya mungkin banyak beribadah kepada Allah, sibuk dengan berdzikir kepada Allah, sibuk membaca Al Quran, sehingga di siang harinya kemudian tidur, maka dipersilahkan.

Catatan yang paling penting adalah jangan sampai meninggalkan kewajiban. Di antara kewajiban tersebut adalah sholat berjamaah, yaitu sholat dhuhur berjamaah, dan sholat ashar berjamaah. Sebagian tatkala di malam harinya sibuk dengan ibadah kepada Allah SWT, namun di siang harinya kemudian tidur, sampai menabrak sholat berjamaah tersebut, meninggalkan sholat berjamaah dhuhur, meninggalkan sholat berjamaah ashar, tentunya ini tidak sesuai dengan contoh dari Nabi SAW.

Atau bahkan sebaliknya yang lebih parah lagi. Seorang yang di malam harinya berhura-hura, di malam harinya banyak membuat perbuatan yang sia-sia, melakukan perbuatan yang tidak terpuji, sampai kemudian larut malam, dan kemudian di siang harinya, di siang ramadhan kemudian tidur sampai kemudian meninggalkan sholat dhuhur maupun sholat ashar secara berjamaah, tentunya ini lebih jelek lagi.

Tapi di sana ada sebagian orang, sebagian dari kaum muslimin yang memang pekerjaan mereka mungkin di malam hari, sehinga harus bergadang di malam hari, padahal itu di bulan ramadhan, sehingga di siang harinya mereka harus mengambil waktu untuk tidur. Maka yang demikian diperbolehkan, selama tidak bertabrakan dengan kewajiban-kewajiban tersebut.

Demikian Islam mengajarkan kepada kita semuanya, kesungguhan, mengajarkan kepada kita semuanya hidup dengan penuh semangat, hidup dengan optimis, sehingga kita dapatkan bagaimana Nabi SAW ketika bulan ramadhan beliau mendapatkan berbagai macam kebaikan, di antaranya perang badar. Perang badar al kubro itu terjadi pada bulan ramadhan, dan kaum muslimin mendapatkan kemenangan pada perang tersebut. Kemudian juga fatkhul Makkah, pembukaan kota Mekkah, demikian juga terjadi pada bulan ramadhan. Dan di situlah kaum muslimin mendapatkan kemenangan besar dan kota Mekkah dibuka, dan kemudian menjadi kota Islam. Dan itu tidak lain terjadi kecuali di bulan ramadhan.

Oleh karenanya seorang muslim di bulan ramadhan hendaknya banyak beramal, banyak beribadah, dan ketika membutuhkan untuk istirahat, maka silakan mengambil istirahat tersebut sesuai dengan kebutuhan, selama itu tidak bertabrakan dengan kewajiban-kewajiban.

Demikian. Wallahu ta’ala alam bisshowab.

Ustadz Muhammad Romelan, Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *