Bagaimana hukum menabung uang di bank?

Terkait hukum menabung di bank, para ulama sudah memberikan penjelasan. Ada berbagai latar belakang orang memiliki rekening bank, ada yang hanya sekedar ingin punya, ada yang tujuannya supaya memiliki ATM, ada yang untuk kepentingan transfer, ada juga yang memiliki rekening untuk menyimpan uang agar aman, dan ada juga yang untuk kepentingan investasi.

Mengenai hukum menabung, ulama berbeda pendapat. Yang perlu digarisbawahi adalah tidak semua transaksi yang terjadi di bank itu transaksi yang haram. Ada banyak transaksi di bank yang tergolong transaksi yang halal.

Contoh transaksi yang halal di bank adalah transfer uang. Transfer uang, baik melalui bank, Wester Union, dan sebagainya itu adalah transaksi yang diperbolehkan, karena tidak terdapat riba. Adapun mengenai tambahan biaya dalam transfer uang, itu dianggap sebagai biaya layanan. Dengan demikian, kegiatan transfer uang melalui bank adalah halal, karena bank digunakan sebagai sarana saja.

Selain untuk transfer uang, di bank, nasabah juga bisa menyewa save deposit box (SDB). SDB ini bisa digunakan untuk menyimpan emas atau simpanannya agar lebih aman, dengan harga yang disesuaikan dengan volume barang yang hendak disimpan. Transaksi ini seperti halnya sewa menyewa.

Contoh lainnya adalah menitipkan uang di bank. Apakah ini diperbolehkan? Boleh. Karena cuma menitipkan uang.

Akan tetapi, masalahnya jika uang sudah jatuh ke pihak bank, uang ini nantinya digunakan oleh bank. Sedangkan akad nasabah dengan bank adalah titip. Nasabah titip uang ke bank.

Misal, si A menitipkan uang ke si B karena si A akan pergi. Bolehkah si B memakai uang tersebut? Kenapa tidak boleh? Uang punya orang kok dipakai? Kan cuma titip.

Hal ini berbeda kalau si A mengatakan bahwa uang yang diberikan kepada si B adalah untuk modal usaha.

Ketika misalnya kita menaruh uang di bank, kita serahkan uang kepada pihak dengan akad titip. Bagaimana kalau uang itu dipakai? Tidak amanah, berarti pihak bank tidak amanah. Sama saja pihak bank memakai uang orang dengan tidak seizin pemiliknya, padahal nasabah menyerahkan uang ke bank tujuannya untuk dititipkan, dan suatu saat bisa diambil jika diperlukan.

Terlepas dari akan diapakan uang yang kita titipkan di bank, bagaimana nasib nasabah? Untuk perkara ini, ada pertimbangan dari ulama, jika mudhorotnya besar ketika kita menyimpan uang di rumah, misal dapat mengundang pencurian, maka menitipkan uang di bank hukumnya diperbolehkan.

Demikian penjelasan seputar hukum menabung di bank, terlepas dari apakah bank itu bank konvensional maupun bank syariah. Penjelasan ini disusun berdasarkan ceramah Ustadz Ammi Nur Baits.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *