Bacaan doa sesudah sholat fardhu apakah ada dalilnya?

Apakah benar ada dalil berdoa setelah sholat fardhu?

Saya tidak pernah menemukan hadits itu, dan yang saya temukan malah pendapat ulama-ulama kita sekarang menyebutkan tentang tidak adanya riwayat yang shohih menyebutkan ada doa khusus setelah sholat fardhu. Makanya para ulaman yang faham dengan sunnah, tidak pernah ada yang mengamalkan secara khusus doa dihubungkan dengan sholat lima waktu. Beda kalau sholat sunnah dan tidak secara khusus. Tapi kalau secara khusus dipaketkan sama dengan dzikir habis sholat, maka itu ulama mengatakan tidak boleh karena tidak ada dalilnya.

Enggak pernah disebutkan nabi saw itu berdoa (sesudah sholat), bahkan banyak hadits bukhori disebutkan, nabi saw seringkali selesai berdzikir langsung berdiri. Memang begitu sunnahnya, langsung berdiri, lalu beliau menunggu di pintu gerbang masjid untuk menunggu kalau ada sahabat yang punya keluhan, atau punya hajat dengan beliau, atau ingin konsultasi dengan beliau.

Makanya dianjurkan untuk tidak membaca doa secara khusus habis sholat lima waktu. Tapi habis sholat sunnah, boleh saja. Hajat kapan perlu lagi jalan butuh hajat sesuatu dengan Allah, langsung sampaikan. Ikutkan tahmid dan shalawat lalu sampaikan hajat anda. Jadi ini jangan sampai ada dipahamin bahwasanya oh kalau begitu ustadz ini menganggap doa tidak perlu. Bukan. Bukan tidak perlu. Menempatkan pada tempatnya. Gitu kan. Ini yang musti dipahamin. Bahkan para ulama sunni kita yang sudah paham tentang masalah ini, mereka di mana saja berdoa. Lagi di mobil, lagi kebetulan ada orang tabrakan, dia berdoa kepda allah, ya allah jangan sampai kena cobaan ini kepada saya. Atau ada orang meninggal, ya allah ampunilah. Atau ada orang belum tutup aurat, ya allah berikanlah hidayah dia dan orang yang seperti dia. Itu kan berdoa terus namanya.

Jadi masalahnya di sini karena nabi saw tidak pernah contohkan berdoa secara khusus habis lima waktu sholat, yang wajib, maka dianjurkan untuk tidak melakukannya. Kalau darurat punya hajat, baik, lakukanlah doa itu setelah sholat sunnah, lebih aman. Jadi tidak diikat dengan habis sholat wajib, karena sholat wajib ini sholat yang diwajibkan. Artinya dzikirpun setelahnya itu dikhususkan oleh Nabi SAW.

Ustadz Khalid Basalamah

…dalam keterangan hadits-hadits nabi saw, nabi saw itu selalu memanfaatkan sholatnya, di dalam sholatnya, dengan doa, karena sholat sendiri disebut dengan doa. Dari mulai takbir, kemudian iftitah sudah doa, fatihah sudah doa, kemudian rukunya doa, i’tidal doa, sujud doa, duduk di antara dua sujud doa. Bahkan dalam sujud dia memperbanyak doanya. Sehingga karena semakin banyak sudah dilakukan dalam sholatnya, setelah sholat itu beliau memperbanyak dzikir-dzikirnya…

Dzikir-dzikir yang istighfar, kalimat-kalimat yang lain, sedangkan doanya tuh disedikitkan. Disedikitkan ini yang kira-kira belum dibacakan dalam sholatnya tadi. Atau mengomentari kebutuhan yang ada setelah sholat. Makanya saya simpulkan jarang berdoa bukan dimaksudkan tidak pernah berdoa. Tapi sekiranya doa yang belum dibacakan dalam sholat, dibacakan setelah sholat. Atau ada kebutuhan yang dimintakan baru beliau berdoa di situ. Kalau sekiranya tidak ada kebutuhan, maka beliau memaksimalkan dengan dzikirnya, itu yang saya maksudkan.

Sedangkan doa-doanya itu simpel, allahuka antasalam itu doa.

wama ainal dzikri wasudrika khusnaibal ladi wa dibacakan

Kadang-kadang nabi berdzikir, sahabat sedang berdoa, ada yang begitu.

Tapi yang paling menarik, ketika nabi berdzikir, sahabat ada yang berdoa.
Buka kitab al kaid al islamiyah karangan syeikh husada, halaman 29, posisi paling kanan, di pertengahan, hadits nomor yang keempat.
Jadi ketika nabi sedang berdzikir, ada sahabat yang berdoa.

Allahuma inanka antalahab asomad aladi lam yalid walam ylad kufuan ahad
allahuma ini asaluka antaghfirodiyah?

Ya allah, saya akui, saya yakini engkau adalah allah al lahab satu-satunya. Dia tempat bergantung. Tidak beranak tidak diperanakan, tidak ada sekutu bagimu ya allah. Hamba memohon ya allah, mohon ampuni dosa hamba.

Kata nabi, tahu dari mana kamu doa itu? Antadli tahukah engkau, ini adalah doa, ini adalah doa, ida doa ya diajabah wasila hofah, doa ini kalau engkau mintakan dengan itu akan dikabulkan kalau berdoa akan dijawab.

Dikomentari oleh Nabi SAW. Yang berdoa sahabat, Nabi sendiri sedang berdzikir di situ.

Jadi kalimat-kalimat berdoa paska sholat yang saya sebutkan jarang bukan berarti tidak berdoa, tapi sesuai kebutuhan yang tidak dipanjatkan dalam sholatnya.

Nah sekarang dari situlah kemudian disimpulkan ada yang mengatakan, kami memilih hadits dari at tirmidzi, nabi tidak pernah mengangkat tangan setelah selesai sholat fardhu. Karena memang yang dibacakan nabi setelah selesai sholat tuh dzikir. Dzikir kalimat toyyibah, bukan doa.

Antum saat istighfar mengangkat tangan enggak? Astaghfirullah 3x kan tidak kan? Ya?
Saat doa, itu yang diangkat. Doa, mengangkat tangan. Sering nabi mengangkat. Sampai-sampai turun ayat quran mengatakan nabi sering mengadah ke langit, mengangkat tangannya bermohon. Quran surah kedua al baqoroh ayat 144, posisi paling kiri sebelah bawah, ketika nabi meminta kiblat dipindahkan ke arah al masjidil harom.
.,, fisama..
Kami sering melihat engkau menenagadahkan wajahmu ke langit memohon, mengangkat tangan bermohon kepada allah
ya allah, ya allah mohon alihkan kiblatnya, alihkan kiblatnya.

Jadi, yang dimaksudkan kenapa jarang mengangkat tangan, tidak mengangkat tangan setelah selesai sholat fardhu itu bukan berarti enggak berdoa, bukan. Karena nabi langsung berdzikir dengan kalimat istighfar.

Sedangkan kalimat itu tidak menuntut mengangkat btangan. Jadi, hukum mengangkat tangan paska berdoa itu boleh-boleh saja. Kalau antum misalnya ingin berdoa mengangkat tangan boleh, bahkan haditsnya banyak di situ, yang menerangkan bahwa orang-orang yang mengangkat tangan saat berdoa, masya allah, itu lebih cepat dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan bahas haditsnya, allah sangat malu kalau membiarkan orang menengadahkan tangannya, tanpa mendapatkan apa-apa, dalam keadaan hampa maksudnya.

Jadi, kalau membaca hadits, jangan kalimatnya begini langsung disimpulkan, tidak, ada ilmunya di situ. Harus dilihat. Tidak semua hadits yang antum baca terjemahannya begini, maknanya begitu, belum tentu. Belum tentu. Saya sering sampaikan, sholat, sholat sunnah paling baik di mana dilakukan? Di rumah. Jangan sampai sini bacanya.
afturulahi baiti mala takulil faroit
Sholat nafilah terbaik di rumahnya sepanjang bukan sholat fardhu.

Belum selesai. Kalimat seterusnya, wabaiti huna dan rumahku di sini. Kata Ibnu Hajr asqolani, kalimat wabaiti huna wahadayatqulu … baitu minal masjid
Ini menunjukkan hukum bahwa jika rumahnya dekat dengan masjid. Karena rumah nabi di masjid. Begitu adzan, nabi sholat sunnah di dalam, di dalam di rumahnya. Begitu iqomat beliau keluar, rumahnya dekat dengan masjid. Tapi kalau rumah antum misalnya jauh dari masjid, tunaikan di masjid. Anda misalnya rumah dekat dengan masjid samping. Ini subuhan di sini, tunaikan sunnahnya di rumah supaya tempat sujudnya lebih banyak menjadi saksi di akhirat.

Tapi sayang, masya allah, rumah di bekasi, mau ngajar subuh misal di istiqomah di bandung, sholat sunnahnya di sana, nyampe sini kapan? Bukan cuma sholat subuhnya, kajian bisa kelewatan. Nah itu cara baca hadits di antaranya.

Makan yang sunnah dengan apa? Tangan atau sendok? Tangan. Berapa jari? Tiga jari. Berarti kalau lima jari enggak sunnah? Coba baca dulu haditnya. Mungkin antum baca dengan terjemahan, tidak dibaca dengan ilmunya. Ada balaghoh di situ, ada kinayah, ada majas. Nabi menyampaikan makanlah kalian dengan sunnah seperti ini, tiga jari, yang dipegang kurma begini, kurma. Dipegang dengan tiga jarinya, mencontohkan makanlah seperti ini. Sedangkan jaman nabi sudah ada roti yang mungkin disobek…

Disepakati oleh ulama dilihat di situ yang dimaksudkan disepakati atau dilihat haditsnya maksudnya. Dianalisis, ketika dikatakan pegang seperti ini, ini bukan mengisyaratkan setiap makan harus dengan tiga jari, bukan. Maksudnya makan sesuai kadar makanan. Kalau antum makan kurma dengan lima jari, apa maksudnya? Artinya apa?

Jadi, makan sesuai kadar makanannya, itu poinnya. Nanti banyak sekali nanti, banyak, dan ada hadits-hadits yang sensitif. Masalah isbal, janggut, masalah macem-macaem dan sebagainya.
Jadi, ada hadits yang sifatnya fatwahwi? yang lafadznya langsung begitu, ada yang maknawi, yang harus dilihat konteksnya seperti apa. Jelas sampai sini?

Ustadz Adi Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *