Apakah orang yang masuk surga dan neraka sudah ditentukan?

Kita sekarang ini, Allah sudah tau mana penghuni surga mana penghuni neraka. Tetapi, bukan paksaan dari Allah, bukan Allah jabr kan. Jabr itu dalam istilah bahasa Arab, Allah paksa dia, harus dia di neraka atau di surga, bukan. Tapi, Allah dengan keluasan ilmunya, dengan keluasan ilmunya, dalam akhir surah al anfal patokannya itu. Allah mengatakan
taawudz
waqot ak bikuli sayi ilman

Dan Allah meliputi segala sesuatu dengan keluasan ilmunya.

Kata para ulama, Allah tau semua, sebelum menciptakan langit dan bumi, sebelum menciptakan semua makhluk, manusia, jin, malaikat, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, semua sebelum menciptakan, Allah sudah tau kalau saya ciptakan nanti, dari awal dia hidup sampai dia mati apa yang dia lakukan, Allah sudah tau dengan keluasan ilmunya.

Itulah keluasan ilmu Allah SWT. Ini yang dimaknakan dengan, waqod ha ta bikquli syain ilmna,
Allah meliputi segala sesuatu dengan keluasan ilmunya.

Jadi, Allah emang sudah tau. Karena Allah sudah tau si fulan ini kalau saya ciptakan nanti dia, dia akan pilih perbuatan penghuni neraka, maka Allah mudahkan jalannya dengan itu. Saya kasih contoh. Takdir ada dua macam, ada mutlak dan ada ikhtiar. Ada yang mutlak, antum tidak bisa campur tangan di situ, lahir dari rahim ibu siapa, paras wajah kita, warna kulit, umur kita berapa lama kita akan meninggal, itu semua, fungsi-fungsi semua anggota tubuh, kuping mendengar, mata melihat, hidung menghirup, lidah mengecap, bibir mengucap, semua itu fungsi, tidak bisa dialihkan. Nggak ada orang bisa makan dengan kupingnya. Nggak ada orang bisa mendengar dengan matanya. Sudah begitu. Itu takdir mutlak namanya. Allah memang yang pilihin. Itu hak kuasa Allah SWT.

Ada takdir yang kedua, ikhtiar. Ini yang sering orang tidak paham. Artinya berhubungan dengan perilaku kita sehari-hari. Makan, minum, tidur, menikah, semua itu adalah ikhtiar, termasuk beriman dan kafir itu ikhtiar.


Seseorang mau keluar ke distkotik atau mau tinggal di rumah, dia pilih kan, bebas. Nggak ada yang paksa dia. Pada saat dia pilih tinggal di rumah, Allah sudah tau sebelum diciptakan dia, dia akan pilih tinggal di rumah pada saat itu, dia batalin ke diskotiknya, Allah sudah tau pilihan dia, sebagai pencipta.

Atau kalau dia keluar pergi ke diskotik, Allah sudah tau dia akan ke diskotik malam itu. Dia akan minum atau dia akan buat apa, maka Allah tau apa yang dia lakukan. Maka termudahkanlah jalurnya menuju ke neraka karena pilihan dia sendiri.

Begitulah yang berhubungan dengan masalah ikhtiar. Jadi, perilaku-perilaku sehari-hari, makan, minum, tidur, beraktivitas, termasuk menikah, itu adalah ikhtiar. Menjadi kafir dan beriman itu ikhtiar. Pilihan kita. Bebas.


Tapi Allah sudah tau dengan kemahaluasannya, di lahul mahfudz tercatat apa saja yang kita lakukan sampai kita meninggal. Ya mungkin kita belum tau kita besok buat apa. Seperti itu memahaminya.

Ustadz Khalid Basalamah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *