Apakah makan membatalkan wudhu?

Kalau berbicara hukumnya, Anda bicara enggak membatalkan wudhu, tapi Anda kehilangan kesempatan pahala diampuni dosa-dosa yang telah berlalu. Karena bahasa haditsnya jangan bicara. Bahasa haditsnya selama dia tidak bicara antara dia wudhu sampai dia sholat.

Tapi kalau anda bicarapun tidak membatalkan wudhu. Cuman sayang kehilangan kesempatan diampuni dosa-dosa. Jelas ya?

Hei, itu krannya kok begitu? Hei jangan bicara, nanti kehilangan kesempatan diampuni dosa. Itu sedang bicara juga.

Bagaimana cara a
Adi hidayat

Hadits Muslim nomor hadits 828, seorang sahabat beratnya kepada rasulullah SAW,
Ya rasulullah
wahai rasulullah
Apakah makan kambing membatalkan wudhu?

Kata Nabi,
la
tidak
Ketika dia bertanya, ya rasulullah, apakah makan unta / ibil? membatalkan wudhu?
Kata nabi, na’am. falyatawadaho idal akalal ibil

Ya, maka berwudhulah ketika anda memakan unta.

Dari sini, orang-orang yang tekstual menyimpulkan bahwa dalam konteks ini hanya unta. Di arab, yang tekstual, teksnya begitu dipahami begitu. Hanya unta yang kalau dimakan maka itu yang membatalkan wudhu kemudian dia berwudhu kembali. Sedangkan makanan selain unta itu diperkenankan, nggak ada masalah.

Nah, yang kontekstual, bukan melihat untanya, tapi melihat pada jenis makanannya. Di Arab itu, kalau anda urutkan makanan-makanan misalnya, dari daging yang paling standar, orang arab makan kambing biasa. Sampingnya ada zaitun, ada sholaqoh? ada macem-macem ya, baunya bisa cepat hilang. Normal, biasa. Dan kambing di arab dengan kambing di kita beda, baunya lebih bau kambing di sini. Karena makanannya lain. Lain unsurnya. Menyengatnya lebih menyengat yang di sini, di sana agak biasa. Tapi unta, itu berbeda. Dari mulai liatnya, pengaruhnya, baunya, macem-macem. Jadi, kalau makan di sana sekaligus makan daging unta pada saat itu, sementara membersihkannya dengan menggunakan siwak saja, sekarang belum ada semacam odol dan sebagainya. Maka ketika digunakan sholat baunya masih ada. Keadaan masih meresap. Maka kemudian, dipahami secara kontekstual, setiap makanan makanan yang punya jenis sifat seperti unta, yang kalau dimakan masih menghasilkan bau yang tidak sedap, masih berpengaruh pada kekhusyuan dalam ibadah, maka yang seperti itu yang terbaik berwudhu kembali. Misal, jengkol dan sodara-sodaranya. Anda makan jengkol, obatnya pete, makan pete obatnya jengkol. Tapi sama-sama bau di situ. Jangan dipaksakan. Bawang misalnya kan, yang sekiranya menghasilkan bau tidak sedap. Anda saja sudah tidak merasa sedap, bagaimana anda menghadap allah. Anda pribadi merasa tidak sedap berbicara dengan orang lain merasa tidak nyaman, masa mau berbicara dengan allah, dalam konteks sholat…

Ustadz Adi Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *