Apa itu bid’ah? Apakah semua bid’ah menyesatkan?

Apakah bid’ah terbagi menjadi beberapa bagian? Mohon penjelasannya.

Sebetulnya kalau dalam kalimat hadits, bid’ah itu cuma satu.
Kulu bid’atin dholalah
Setiap bid’ah itu menyesatkan.
Sudah selesai. Jadi, yang namanya bid’ah pasti sesat, yang namanya bid’ah pasti salah. Jadi, semua bid’ah itu cuman satu. Jadi kalau ada sesuatu yang tidak menyesatkan, itu bukan bid’ah namanya. Itu bukan bid’ah, cuma nanti ada kalimat-kalimat kiasan, diistilahkan untuk menggambarkan sesuatu yang hakikatnya bukan bid’ah, tapi sementara orang menduga itu bid’ah. Maka dibuat kalimat kiasan. Kalau mereka menyebut bid’ah, maka bid’ah ini yang paling bagus. Itu bukan bid’ah sebetulnya. Cuma kalimat kiasan untuk menunjukkan bahwa ini bukan bid’ah, cuma sementara orang salah paham menduganya sebagai bid’ah. Maka dibuat kalimat kiasan. Contoh misalnya, Umar bin Khattab, beliau menganjurkan para sahabat Nabi SAW, sejak wafatnya Nabi SAW kemudian di zaman Khalifah Abu Bakar, supaya menunaikan sholat tarawihnya berjamaah ke masjid, berjamaah. Di zaman Nabi SAW, Nabi senantiasa menunaikan tarawih di nmasjid, itu umumnya cuman tiga malam. Setelah itu beliau kembali ke kamarnya, menunaikan sholat dengan sendirian. Shubuhnya beliau menyampaikan kepada para sahabat, aku tau kalian mencari-cari aku. AKu memilih untuk menunaikan sendirian supaya sholat ini tidak dihukumi wajib oleh Allah, ditunaikan berjamaah. Supaya tidak dihukumi wajib oleh Allah ditunaikan berjamaah.

Bahkan sepeninggal Nabi, para sahabat tetap mempertahankan itu. Kadang-kadang ke masjid, kadang-kadang di rumah. Yang di masjid pun kadang-kadang mohon maaf ya, mohon maaf, ada yang sholat berjamaah di pojokan…
Jadi nggak satu shof. Nggak satu tempat. Maka Umar melihat itu, kalau begini caranya orang akan terpencar-pencar. Maka oleh beliau kemudian dikumpulkan. Apa dasarnya? Dasarnya diambil hukum qiyas. Nabi itu sesungguhnya ingin menjadikan umat semuanya berjamaah ke masjid. Cuma karena khawatir sholat sunnah ini menjadi wajib berjamaah, maka beliau memilih untuk menunaikan sendirian. Jadi bukan berarti menolak berjamaah, bukan. Ya. Prinsip dasarnya berjamaah. Karena Nabinya sudah wafat, tidak mungkin hukum berubah, maka kalimat qiyas ini diambil oleh Umar bin Khattab, maka diajaklah kemudian para sahabat untuk menunaikan sholat berjamaah. Maka dari situ ditunjuklah kemudian Ubay bin Kaab sebagai imam bagi laki-laki, dan Husaimah menjadi imam untuk perempuannya.

Dari situlah kemudian sholat berjamaah, sholat sunnah tarawih dikerjakan berjamaah di masjid dan tidak ada satupun sahabat yang mengingkari.

Saat semua itu ditetapkan, Umar kemudian menyampaikan, lihat kalimat Umarnya.

Kalaupun ada sementara orang yang menduga ini sebagai bid’ah, maka nikmatul bid’ah tuhadihi, sebaik-baiknya bid’ah maka ini bid’ah yang terbaik.

Maksudnya itu bukan bid’ah. Petunjuk Umar ni bukan bid’ah. Jadi sholat berjamaah di masjid itu bukan itu bukan bid’ah. Tapi kalau ada orang kemudian mengatakan di kemudian …
Umar ingin mengatakan, tidak setiap yang tidak ada contohnya dari Nabi, langsung dihukumi bid’ah. Kalau kaidahnya sesuai dengan hukum Nabi, maka itu boleh dilakukan. Kalau disebut bid’ah, maka ini yang paling bagus.

Maka dari sini orang membuat kalimat-kalimat seperti ini, ada bid’ah hasanah, ada bid’ah dholalah, bid’ah yang baik dengan bid’ah yang buruk. Bid’ah yang baik ini sebetulnya bukan bid’ah karena semua bid’ah itu buruk.
Jelas sampai sini ya?

Jadi, kalau ada misalnya sesuatu perbuatan dalam fiqih Islam, tidak ada contohnya dari Nabi, tidak harus langsung menjadi bid’ah. Awas. Catat kalimat saya ini ya.

Kadang-kadang ada orang mengatakan, kalau enggak ada contoh dari Nabi itu bid’ah, belum tentu. Belum tentu. Kalau ada dalilnya, bersandar kepada Nabi, sekalipun Nabi tidak mencontohkan, belum tentu menjadi bid’ah. Boleh jadi dalam fiqih, ketika ditelusuri, Nabi tidak mencontohkan bukan karena tidak ingin mempraktekkan.

Ada satu bisa menjadi berat untuk umatnya, yang kedua boleh jadi memang kondisinya tidak memungkinkan bagi Nabi untuk melakukannya. Tapi bagi umat, kalau bisa melakukannya.

Nabi selama hidupnya, Anda silahkan buka kitab-kitab hadits, tidak pernah melakukan tahiyatul masjid selama hidupnya. Tidak pernah. Tapi umatnya diminta untuk mengerjakan tahiyatul masjid, nabinya tidak. Kenapa? Karena rumah nabi di masjid. Karena rumahnya di masjid.

Begitu iqomat dilakukan, Nabi keluar dari rumahnya. Selesai.

Jadi, bukan karena Nabi enggak bisa mengerjakan tahiyatul masjid, rumahnya sudah di masjid. Jelas sampai sini. Baik.

Nah, kalimat ini nanti yang digunakan sebagai kias. Anda zakat pakai apa?

Nabi pernah zakat pakai beras? Ah berarti bid’ah itu? Silahkan cek ya. Silahkan cek. Anda silahkan temukan, tidak akan pernah menemukan, jangankan di kitab paling shohih, di kitab hadits paling palsupun tidak akan pernah ditemukan Nabi zakat pakai beras. Itu enggak ada. Nggak ada.

Nabi zakat itu kalau tidak menggunakan kurma, menggunakna gandum. Menggunakan kurma atau menggunakan gandum. Masya Allah. Apa yang terjadi? Ketika Mu’awiyah diutus menjadi gubernur di Syam, kata Mu’awiyah, silahkan keluarkan zakat dengan irqun? Irqun itu makanan pokok. Jadi ditafsirkan oleh beliau, gandum, kurma, itu makanan pokoknya di zaman Nabi di tempat Nabi. Ketika beliau menjadi gubernur di Syam, makanan pokoknya sebagian tempat ada yang beda. Maka silahkan gunakan zakat dengan makanan pokok itu.

Nah maaf, makanan pokok kita apa di sini?

Itu makanan pokok antum. Makanan pokok saya nasi. Kalau beras itu makanan pokok bagi hewan yang punya tembolok. Ayam itu beras. Angsa itu beras. Baik ya. Kalau saya nasi. Alhamdulillah. Baik. Nasi sumbernya dari mana? Dari beras.
Baik, karena makanan pokoknya nasi, sumbernya dari beras, maka dari sini diambil metode qiyas, sekalipun tidak ada contoh dari Nabi, tapi ada ketentuan kaidah hukumnya, maka boleh dipraktekkan.

Ustadz Adi Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *