Apa hukum memelihara jenggot dalam Islam?

Persoalan merapikan jenggot, kita akan lihat hadits-hadits yang berbicara tentang jenggot, itu bahasanya menggunakan kata ifah, ifahul la? waahfilaiyah, qosyu sa

Saya berikan dulu

Jadi, ada seorang sahabat Nabi SAW pulang dari, kita Persia lah sekarang ya, ada wilayah Irak, Iran, seperti itu. Dia pulang mengatakan, Ya Rasulullah mereka enggak berjenggot. Kata Nabi, kamu berjenggot.

Anda harus paham bahwa ketika Nabi mengatakan, kamu berjenggot, itu di Arab, semua sudah berjenggot. Umumnya berjenggot. Sampai sekarang pun orang Arab berjenggot. Kalau Anda lihat, baik yang muslim ataupun yang non muslim. Misal, beberapa negara Arab, di Palestina misalnya, itu ada non muslimnya. Mereka berjenggot juga, panjang panjang, bahkan ada Yahudi berjenggot. Tapi, ketika Nabi mengatakan pada orang ini, kamu berjenggot, bahasanya bukan kamu menumbuhkan jenggot. Tapi, i faul lahiyah. I’fa itu ikfa bilahiyah
Ikfah itu dari kata ifah, artinya merawat, menjaga, sehingga tampil baik. Ada tiga hal yang disasar oleh Nabi SAW dalam kalimat ini.

Satu, pertama, Nabi ingin katakan pada orang ini ketika dia katakan mereka enggak berjenggot, nabi katakan, kamu berjenggot, dengan kalimat rawat, perbaiki, tampilkan baik jenggotmu. Kalimat ini ingin menegaskan kata sebagian ulama hadits, ingin menunjukkan pesan bahwa jangan sampai kamu cepat mengikuti budaya-budaya orang.
Dia enggak berjenggot, kamu ikut begini. Dia begini, kamu begitu. Jadi, jangan sampai sesuatu yang belum tentu baik, kamu bisa ikuti. Ini pesan pertamanya. Jadi, hadits jenggot ini, salah satu pesannya tidak hanya berbicara tentang jenggot. Tapi, jangan sempat kita terbuai dengan pemikiran orang lain, budaya orang lain, nanti semudah itu kita ikuti.

Pesan ini sangat penting, karena tidak banyak ditangkap orang. Sekarang antum sibuk mengurus jenggot misalnya, kan salah satunya. Tapi juga kita lupa, cepat meniru budaya orang lain yang belum tentu baik untuk kita. Mohon maaf. Ada sebagian orang dicat rambutnya, ikut dicat. Masya Allah. Ada sebagian pake anting, ikut pake anting. Ada yang dilubangi telinga, ikut dilubangi telinganya. Tanpa tahu bahwa kebiasaan itu belum tentu baik di tempat asalnya.

Saya mau contohkan. Tahukah Anda, telinga yang dilubangi itu, di tempat asalnya, di wilayah Eropa Amerika sana, kalau ada seseorang telinga berlubang satu, itu tandanya homo orang itu asalnya. Asalnya homo itu. Kalau satu lagi dilubangi, artinya homo yang ini sudah bergaul dengan homo yang lainnya. Itu asalnya itu.

Maka Nabi memberikan jawaban kepada kita lewat hadits yang pertama ini, detilnya seakan berbicara tentang jenggot, tapi maknanya yang lebih luas berbicara jangan cepat meniru budaya-budaya orang yang belum tentu baik keadaannya.

Yang kedua, beliau ingin menegaskan, kamu itu sudah berjenggot. Pelihara jenggot kamu. Pelihara, tapi pemeliharaannya bedakan antara orang Islam yang beriman dengan orang yang belum beriman yang sama-sama punya jenggot. Jenggo orang Islam itu ketika punya jenggot, maka rawat dengan baik. Tampilkan dengan bagus. Kemudian tampilkan keindahan. Jangan sampai kamu punya jenggot berantakan seperti orang-orang itu, tidak terawat, menjulur begitu saja. Ketika makan, ada lalat, lalat masuk ke situ, bersarang ke situ, dan sebagainya. Itu yang tidak diinginkan.

Jadi, perintah berjenggot ini, satu, bapak ibu sekalian, bila ditujukan kepada umat Islam, satu, perintah jauhnya untuk menghindari budaya-budaya yang tidak sesuai dengan kita. Yang kedua, khusus bagi yang punya jenggot, silahkan rawat jenggotnya dengan tampilan yang indah. Dan di antara tampilan yang indah ini, tidak dilarang kalau kita kemudian ingin memotong, ingin merapikan sesuai dengan batas keindahan yang diperkenankan.

Dan tidak disukai kemudian menghabiskan atau terlalu nipis misalnya, bagi yang punya jenggot. Karena sunnahnya rawat tampilan dengan baik. Sampai ada yang menafsirkan perkataan Ibnu Umar, kalau bisa misalnya segenggaman seperti ini, silakan itu baik.

… terlalu panjang dan sebagainya tapi berantakan, maka silahkan rapikan. Boleh cukur, untuk merapikan. Dan tidak dianjurkan untuk dihabiskan. Tidak dianjurkan. Masya Allah. Itu yang baik. Tapi, ini hanya ditujukan pada yang punya jenggot. Ingat, hadits tentang jenggot itu tidak pernah mengatakan menumbuhkan jenggot. Jadi kalau memang fitrah Anda tidak tumbuh jenggotnya, maka hadits ini tidak berlaku dan enggak usah maksa-maksa tumbuh jenggot. Anda beli timun, beli arang, gosok-gosok begini misalkan, enggak usah. Ini bagi yang punya jenggot silakan rawat. Dan kalau misalnya berlebihan tampak tidak rapi, silakan dirapikan, itu sah hukumnya, karena ini masuk dalam kategori, ikhfa aniiyah???

Ustadz Adi Hidayat, Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *